Minggu, 22 November 2015

Cerita di Bilik Kamar


Meskipun aku tidak melihatnya, tapi biar kutebak, hujan di luar pasti sangatlah deras. Aku bisa tahu hanya dengan mendengar suaranya, dan dengan melihat Ana mengenakan kaos kaki dua lapis.

"Bukannya tidur sambil berselimut, ia justru sibuk corat-coret," timpal Spica smartphone jadul Ana gemas.

Aku protes tidak terima. "Ana sedang sibuk mengerjakan tugas bahasa. Pasti ia sedang dikejar deadline."

Spica diam.

"Sebenarnya aku sedih melihat Ana. Dengan kondisiku yang sudah menua, aku tidak bisa banyak membantu Ana," ungkapku pada Spica.

Spica menatapku penuh tanya.

"Kondisiku sungguh berbeda dengan 3 tahun silam. Saat aku masih baru. Saat bateraiku masih awet. Saat fungsiku masih bagus."

Spica juga mendadak sedih. "Aku sependapat denganmu, Pyxis. Aku pun tidak banyak membantu Ana. Fitur kameraku pas-pasan. Terutama di tempat gelap. Hasil potretan kameraku langsung buram. Tugas bahasa Ana sudah pasti tidak terbaca."

Tok Tok.

Ana menoleh dari kesibukannya menulis. Didapatinya Nita tersenyum. "Sibuk kak?"

"Deadline Nit! Banyak! Dan harus difoto, lalu dikirim lewat email, lalu dikirim lagi lewat hp. Kebayang gak ribetnya kalau pakai kamera saku? Aakkk sutress!" 

"Semangaaat Kak! Haha," timpal Nita.

Ana memandanginya sewot.

"Makanya beli smartphone baru, An!" sahut Kak Majek yang tiba-tiba masuk kamar. Kak Majek ini teman sekamar Ana.

Nita cekikikan sebelum kembali ke kamarnya.

"Diam kalian! Jangan bikin tambah galau!" sungut Ana sebal. Pandangannya kembali fokus menatap soal bahasa.

Sementara Kak Majek sibuk mengotak-atik smartphonenya, lalu tak lama..

"Aku tanya Angga. Katanya android Asus bagus nih. Total kameranya 13 MP," cerita Kak Majek. 

Aku melotot! Gila, 13 MP! Kameraku saja 14 MP! 

"Hmm.."

"Aku bacain ya An," kata Kak Majek.

Ana mengangguk. "Kak, ibaratanya sekarang aku kayak dikejar Anjing gila. Tapi aku simak omongan Kakak."

Kak Majek ngakak. "Tipenya Asus Zenfone 2 Laser 5.0 ZE500KG."

Penampakan cantiknya.
Gambar dari: www.asus.com

"Wow, pakai laser, men! Itu pasti buat fokusnya."

"..."

Ana nyengir. "Lanjut Kak."

"Kamera utamanya 8 MP dengan kemampuan ngambil foto beresolusi 3264 x 2448 pixel. Menariknya, kamera ini dilengkapi fitur Laser Auto Focus untuk memfokuskan dengan sangat cepat objek yang difoto. Termasuk menerjemahkan fokus sampai 0.2 detik."


wow wow wow
Gambar dari: www.asus.com
Ana berhentik sejenak dari kegiatannya menulis. "Tahu gak Kak? Kecepatan laser itu setara dengan kecepatan cahaya. Efeknya, identifikasi objek bisa ditangkap dengan sangat cepat di jarak yang dekat maupun jauh, bagus untuk kondisi gelap, serta bisa mengurangi foto objek yang buram. Laser Auto Fokus ini udah standar DSLR. Daebak!"




Ini udah standar DSLR, loh!
Gambar dari: www.asus.com


Kak Majek, aku, dan Spica sama-sama mengangguk sok paham.

"Nggak hanya itu An. Kameranya juga disertai dengan Mode Resolution yang mampu mengambil gambar sampai resolusi 32 MP. Juga disertai dengan aperture f/2.0."

"Aperture itu ukuran bukaan lensa kamera. Ibarat kran, aperture ini bagian yang ngatur seberapa banyak air yang keluar. Semakin kran dibuka, maka air yang keluar semakin banyak. Aperture sebaliknya, semakin kecil nilai suatu aperture, semakin besar lensa yang dibuka. Artinya, akan semakin banyak cahaya yang diserap. Artinya, objek yang difoto akan semakin terlihat terang," kata Ana lagi.


Ini kamera udah dilengkapi aperture sampai f/2.0!
Gambar dari: www.asus.com 


Dia memang cukup paham tentang fotografi.

Kak Majek melanjutkan. "Selain itu, kamera depannya sampai 5 MP. Kamera depan ini juga mendukung Auto Focus. Cocok banget nih buat selfian rame-rame. Karena sudut angelnya luas sampai 85 %. Jadi semua pasti kebagian setor muka, hahaha."


Bisa buat selfie rame-rame, hahaha
Gambar dari: www.asus.com

Ini hasilnya, haha kece kan?
Gambar dari: www.asus.com

Ana tiba-tiba memandangi Kak Majek. "Kak kayaknya bagus deh Androidnya buat demen fotografi macem aku."

"An.."

"Lanjut Kak." Ana nyengir.

"Dukungan teknologi khas Asus, PixelMaster Mode Backlight yang memastikan kamu bisa mengambil foto objek dengan jelas di bawah terik sinar Matahari. Juga melalui teknologi pixel-marging yang menggabungkan 4 pixel terdekat untuk membentuk gabungan pixel dan algoritma canggih, terciptalah Mode Low Light yang membuat smartphone ini mampu menangkap gambar lebih terang di ruang yang gelap dengan meredam gangguan sampai 400 %, tanpa bantuan flash. Jika dibutuhkan, tersedia pula dual_LED (dual tone) flash yang menghasilkan warna natural pada foto. Selain itu, kamera ini juga bagus buat merekam video full HD dengan kecepatan 30 frame per-detik."


canggih ya? o_o
Gambar dari: www.asus.com

Kak Majek bengong setelah membacanya. Ana juga. Spica menoleh ke arahku. Aku mengangkat bahu.

"Kak, itu kamera smartphone smart banget buat motoin tugas bahasaku. Jadi aku nggak perlu rempong bolak-balik mindahin foto dari kamera saku ke laptop lalu dipindah lagi ke hp."

"Iya. Juga bisa banget An motoin tugas malem-malem. Nggak perlu deg-degan karena tulisan di foto takut nggak kebaca."

"Buat minat dan bakat fotografiku juga Kak. Bisa motret buat kebutuhan nulisku juga. Aaaakk Kak mauuuu," pekik Ana antusias!

"Buat video call sama adekku di Malang oke juga Kak kamera depannya."

Buat video call pasti seruuu!
Gambar dari: www.asus.com


Aku dan Spica juga tak kalah antusias. 

Lalu hening. 

Aku mengintip ingatan. Ana memang suka sekali fotografi. Fotografi adalah mood boosternya setelah menulis. Kalau sedang asyik memotret ia bisa sambil jumpalitan sampai merayap demi mendapatkan foto yang bagus. 

Dulu aku kerap menemaninya mengambil momen-momen yang berserakah di sekitarnya. Tapi sekarang aku sadar diri. Aku sudah renta, dan tidak praktis lagi. 

"Namanya piscok, Kak," bisik Ana tiba-tiba.

"Hah?"

"Nama calon smartphone itu, hahaha. Piscok dari pixel, hahaha. Ceritanya kan, hp kamera."

Aku ngakak, Spica sampai keluar air mata.

"An, harus nama makanan?"

"Biarin, ah!" Ana menjulurkan lidah.

Jadi ingat, namaku sendiri juga diambil dari Pixel dan kesukaan Ana pada astronomi, Pyxis. Dan perkenalkan, Aku adalah kamera saku butut milik Ana.



Sabtu, 31 Oktober 2015

Gramedia, Aku Padamu.

“Kak, tahu nggak, aku ketemu dan masuk Gramedia baru pas kuliah?”Kakak kelasku melongo.

“Serius. Rumahku kan di desa, Kak,” lanjutku.

“Jadi kamu belum pernah masuk toko buku? Astagaaaa.”

“Ya pernah. Tapi toko buku kecil. Denger Gramedia udah lama sih. Tapi belum pernah masuk aja, hahaha.”

Serius. Rumahku di desa. Toko buku hanya ada satu. Itu pun dengan koleksi buku yang amat terbatas. Terang saja, saat kuliah di kota, tempat pertama yang ingin aku kunjungi ialah Gramedia.

Pertama kali melihat Gramedia, toko buku yang gedenya masyaAllah. Aku terharu. Sungguh. Pertama kalinya melihat toko buku sebesar itu.

Kalau kata temanku, Gramedia itu perpustakaan. Kalau ditanya tentang perpustakaan buku, jawabnya otomatis Gramedia, hahaha.

Bagiku, Gramedia adalah tujuan setiap kali mengunjungi suatu Mall yang ada Gramedianya. Nyaris nggak pernah absen kalau masuk Mall. Kecuali kalau masuknya ramean bareng teman-teman. Karena rasanya sebal.

Misal, sedang asyik-asyiknya baca, muter-muter lihat buku bagus, lalu eh diinterupsi. “Pulang yuk, An. Udah belum?” Ih ganggu deh! Haha

Karenanya, aku lebih suka pergi ke Gramedia sendirian. Nggak jarang, aku memang sengaja menyiapkan waktu khusus. Pokoknya judulnya hanya ada aku dan Gramedia.

Sampai temanku bilang. “Kalau lo lagi bete, tinggal dilepas aja di Gramedia sendirian, pasti abis itu balik normal lagi.”

Selain itu ya, aku sukaaaa sekali datang ke bazar Gramedia, hahaha.

Bazar sangat membantu kebutuhan membacaku. Ada kalanya, mataku ijo-ijo melihat deretan buku bagus. Tapi apa daya, saat kantong tidak mendukung. Nah, solusinya, ya datang ke bazar. Pantengin seluruh akun sosial media terdekat. Lalu kepoin jadwal bazar mereka, hahaha.

Di bazaar seru. Gramedia suka mengeluarkan banyak buku bagus dengan harga terjangkau. Dari anak-anak, remaja, dewasa, dan tentu saja aku, bisa puas memilah mana buku-buku yang bagus tapi bersahabat di kantong, hahaha. Seringkali bazar ini membuatku terharu. Buku-bukunya bagus-bagus dan muraaaaahhh.. T_T

Kesimpulannya. Gramedia itu temanku, hiburanku, mood boosterku, perpustakaanku. All in one yang melingkupi seluruh kesenanganku pada membaca.

Sabtu, 19 September 2015

Perawatan Wajah Murah Ala Anak Kostan


Sejujurnya, aku nggak bisa dandan *jeng jeng*

Pun males dandan.

Pakai bedak tabur aja sering lupa. Entah karena memang buru-buru, atau karena memang nggak biasa. haha

Tapi rupanya, aku nggak dibiarin lolos begitu aja. Karena mentang-mentang nggak bisa dandan, atau malas dandan, terus lo bisa kabur gitu aja An? haha

Kulit mukaku berminyak. Kadang minyaknya sedikit, kadang parah banget sampai kata temenku bisa dipakai buat nyeplos telor -____-

Nah, kulit berminyakku ini perlu 'agak' dirawat supaya nggak tumbuh jerawat. Kalau tumbuh jerawat pasti meninggalkan bekas. Kalau meninggalkan bekas, pasti susah hilangnya. Kalau susah hilangnya, pasti mukaku jadi rame. Kayak langit yang bebas kabut, banyak bintang kedip-kedip di seluruh muka. -____-

Misalnya, aku lupa cuci muka. Cuma beberapa jam padahal. Itu udah tumbul benih jerawat loh.. T_T

Jadi, temanku sekamarku biasanya akan mengomeliku kalau lagi males cuci muka.

"Bayangin aja An, mukamu rame sama bentol-bentol karena kamu malas cuci muka. Padahal buat cuci muka cuma butuh waktu 5 menit."

Mendengar kata bentol-bentol, aku langsung bangun dan jalan sempoyongan ke kamar mandi.

Kalau udah terlanjur jerawatan gimana?
Ini dia masalah besarnya! Ke dokter, nggak mungkin. Kan aku anak kostan, sayang amat ngabisin duit ke dokter.haha.. 

Pergi ke salon makin nggak mungkin. Secara untuk potong rambut aja aku nggak pernah ke salon. Selalu potong rambut sendiri, haha..

Konon ya, kere itu beda tipis dengan kreatif. Dan kreatif selalu muncul dalam pikiran anak kostan. 
Jadi, siasatku ialah... perawatan di rumah kost. hahah dengan cara browsing bahan-bahan murah yang bisa mencegah, merawat, sampai membasmi jerawat berserta bekas-bekasnya, hahaha.

Biasanya aku pakai 4 bahan ajaib ini. 

Madu.



Madu ini bisa diolesin terserah di area berjerawat. Tapi buatku nggak terlalu efektif. Jadi aku panasin terlebih dulu sesendok madu di atas kompor. Waktu anget-angetnya, baru dioleskan di area berjerawat. Rasakan khasiatnya. Jerawatku jadi lebih kempes. Dan bekasnya jadi lebih samar.


Minyak Zaitun.



Minyak ajaib ini bisa diminum, tapi aku enek. Aku pilih dioleskan aja sebelum cuci muka sebelum tidur. Baru cuci muka pakai sabun kesayangkan. Kenapa dioles sebelum tidur? Karena mukaku berminyak. Kalau dibawa tidur, bisa makin banyak jerawatku. Khasiatnya untuk menghilangan noda bekas jerawat dengan aman dan pelan. 

Minyak zaitun ini juga bisa dijadikan lipbalm di malam hari sebelum tidur. Fungsinya untuk melembabkan bibir yang retak karena kering. 

Baking Soda.


Iya, yang biasa dibuat kue itu. Baking soda selain ampuh untuk memutihkan muka, juga cukup efektif untuk memudarkan noda jerawat lalu mengenyahkannya pelan-pelan. Buat yang mukanya kilang minyak kayak aku, cocok banget, minyaknya jadi agak berkurang. Cara pemakaiannya aku campur pakai sabun cuci muka. Lalu gunakan sebagaimana biasanya.

Ketiga bahan di atas bisa dicampur 1 dan dijadikan masker loh, hahaha. Setelah memakai masker, dibasuh pakai air hangat, lalu dibasuh dengan air dingin. Segeeeer! Muka jadi kelihatan 5 menit lebih muda.hahaha *absurd*

Air cucian beras.



Ini yang paling sederhana. Cukup menyiramkan air cucian beras ke seluruh muka. Udah, gitu aja. Khasiatnya, muka jadi cerah.

Tadaaa.. murah meriah kan? haha namanya juga anak kost. Kadang ya, beli teh ijo, daunnya ditemplok di muka, dan air tehnya diminum.hihi.

Beli pisang juga gitu, kulit pisangnya ditempel di muka. Nyeduh kopi juga, ampas kopinya ditemplok atau dijadikan scrub ke seluruh kaki, haha.

Apapun yang berfungsi memperbaiki tampilan muka, templokin aja, haha. Asal alami, insyaallah juga tidak berefek menakutkan. Paling kalau nggak cocok, ya wajahnya nggak memperlihatkan perubahan apapun, hehe.

Perawatan muka itu murah kok, tapi kesabaran dan ketelatenannya yang mahal. Karena banyak yang ingin mendapatkan hasil yang instan. Maka banyak yang rela membeli produk semahal apapun, asal wajahnya bisa kinclong dalam beberapa menit, hahaha *kekep dompet*

Padahal karena bahan-bahannya alami, maka jelas membutuhkan waktu. Hati aja butuh waktu untuk menyembuhkan luka *uhuk* masak muka nggak dikasih kesempatan bekerja sama dengan waktu untuk mengenyahkan segala noda?wkwkwk

Begitulah, untuk melakukan serangkaian perawatan di rumah, harus sabar, sabar, dan sabar. 


"Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway Perawatan Di Rumah bersama Ammara Beauty Care"


 
 

Senin, 22 Juni 2015

Bukan pencerita ulung

Nggak semua orang nyaman dengan pertanyaan ingin tahu dari orang lain. Kata mereka, ada pagar yang nggak bisa dimasukin oleh siapapun selain diri mereka sendiri. 

Kalau kataku, nggak semua orang yang ingin tahu dan memutuskan bertanya, siap ketika menerima jawaban. Sebagian besar dari mereka justru terus mengajukan pertanyaan demi mendapat jawaban yang diinginkan. Padahal jawabannya sudah dijelaskan sedemikian rupa.

Bah..

Atau, akan selalu ada orang-orang yang bertanya karena ingin menilai dan memberikan ceramah panjang lebar. Alih-alih mendengarkan jawaban, mereka justru memaksa orang lain untuk mendengarkan.

Mungkin karena itu.. karena banyak yang tidak ingin menganggu privasi orang lain.. karena banyak orang yang sok tau.. karena sedikit yang benar-benar ingin mendengarkan..

Aku selalu gagal ketika hendak menjadi pencerita yang ulung atas kisah hidupku sendiri..

 




Minggu, 17 Mei 2015

Tips Menyederhanakan Satu Dua Persoalan Hidup

Di suatu hari yang indah, saya seperti biasa menyenggol seorang teman. Saya memanggilnya bibik, dan dia memanggil saya tante, hahaha. 

Bibik ini suka sekali nongkrong di depan laptop atau menekuri hpnya untuk update berita terbaru. Bagaimana ya bilangnya? Dia bukan orang sosial media, yang apa-apa harus update menceritakannya ke seluruh penjuru dunia. Namun dia adalah jenis orang yang memanfaat sosial media untuk kesejahteraan hidup. Misalnya, dengan browsing berita terkini dan berbelanja efektif yang efisien, haha.

Bibik ini paling tidak betah berpanas-panasan di pasar sambil memilah pakaian. Menurutnya, kalau semua bisa didapatkan di online, kenapa harus memanggang diri di bawah terik sinar matahari? wkwkwk.

Awalnya saya ingin menjitak kepalanya keras-keras. Dih, di online kan rata-rata model pakaiannnya gitu, standar semua. Atau di online itu harganya mahal-mahal dan nggak bisa ditawar. Intinya, dulu saya berpikiran bahwa online shop itu hanya diperuntukkan untuk rakyat kelas menengah yang sibuk kerja dengan harga selangit. XD


Namun bibik tidak peduli. Saat itu ia tetap memelototi layar laptop sambil terus memilah-milih. 

Lalu waktu terus beranjak. Handphone juga terus berinovasi was wis wus bak kecepatan cahaya. Pun segala macam aplikasi mulai muncul. Salah satunya adalah instagram.

Nah, aku pikir instagram ini tempat posting foto-foto untuk pamer doang, wkwkwk. Males kan ya? Namun ternyata nggak sesempit itu yak? Hahaha.. Nah bibik ini cukup update lah soal instagram. Bukan update foto, tapi update toko murah dan enak untuk berbelanja. Astaga bibik! 

Apalagi di zaman sekarang ya.. zaman di saat undangan pernikahan menghampiri layaknya hujan Bogor. Ujug-ujug datang keroyokan. Pernah sampai tiap weekend sudah terisi jadwal kondangan.   

Alamak! Ini salah satu permasalahan dunia. Kondangan muluk! Dengan tamu kondangan yang biasanya itu-itu saja. Ketemunya lo lagi lo lagi, hahaha.

Awalnya  aku termasuk cuek soal penampilan. Duh, yang penting datang kan ya? Meskipun cuma tampil 'seadanya' dengan baju 'seadanya'. Jika sudah begini bibik biasanya akan mengomeliku panjang lebar.

"Berpakaian rapi itu merupakan dari menghormati yang punya acara," pesannya sok tahu.

Aku tidak serta merta menerima pesannya. Awalnya bahkan aku misah-misuh di depannya. Namun lama kelamaan, hmm iya ya? Yah, setidaknya ganti baju lah. Meskipun gantinya hanya berputar-putar di antara beberapa baju, hahaha

Belum lagi soal kado pernikahan! Ini merupakan permasalahan kedua yang tidak kalah peliknya. Belum soal nunggu iuran dengan teman-teman. Intinya cukup memakan banyak waktu dan perang argumentasi! Ada yang ingin memberi kado A, sementara lainnya lebih setuju jika kado B yang dibeli.

Nah kalau online kan semuanya jadi mudah. Tinggal lihat foto, lalu pilih bareng-bareng, setelah sepakat baru deh kita transaksi.

Salah satu toko online yang mudah ditemui di instagram dan mudah diakses di layar laptop tanpa membutuhkan banyak buffering karena kuota yang menipis, shopious salah satunya, hahaha.

Shopious ini menurutku udah seperti toko kelontong. Namun versi online-nya, hahaha. Semuanya ada. Terlebih ketika banyak acara kondangan menanti di depan mata. Tidak perlu ribet-ribet. Mau cari pakaian yang kece, di sana cukup banyak model. Mau nyari kado juga banyak! Dari mulai barang-barang couple unyu sampai peralatan masak.

Hoho soal harga cukup murah dan bersaing loh. Jadi tidak perlu takut dompetnya tercekik sampai sekarat.

Apa kabar bibik? Jangan ditanya, dia demen banget nemu toko kelontong aka online shop yang lengkap ini, hahaha. Bisa-bisa dia seharian nongkrongin di depan laptop, lalu biasanya dia akan pamer kalau sudah berbelanja barang bagus dengan harga terjangkau.



 

 



Manusia

Manusia. Sekeren-kerenanya. Sekaya-kayanya. Serupawan-rupawannya. Mereka pasti hanya ingin dikenal sebagai dirinya. Bukan karena harta, prestasi, maupun paras.

Karena itu, aku ingin meminta maaf. Sudah pernah memandangmu penuh iri. Iri dengan tingkat pendidikan yang berhasil kamu raih. Iri pada pengalaman yang berhasil kamu jajal. Iri pada silaumu yang tertangkap oleh mataku.

Maaf ya, untuk yang kesekian kalinya. Bagaimanpun, begitulah sosokmu terlihat dari kacamata awam sepertiku. Bagi orang yang tidak pernah bersinggungan hidup denganmu, wajar kan jika aku melihatmu dari apa-apa yang tampak?

Maaf, karena aku mengabaikan dirimu yang sebenarnya. Bagaimanapun, kamu juga manusia. Pernah tidak menjadi siapa-siapa. Pernah berjuang penuh kesulitan. Pernah merasa nyaris putus asa. Pernah melakukan khilaf. Apapun itu yang menandakan bahwa kamu tidak sempurna. 

Karenanya, aku benar-benar minta maaf. 

Belajar dari Korea

Semakin aku mengenal Korea. Semakin sering nonton variety shownya sampai dramanya. Semakin aku tahu, bahwa artis-artis itu, idol-idol itu, bintang-bintang itu membayar mahal atas penampilan mereka di layar kaca.

Adalah kebebasan yang mereka jadikan alat transaksi. Kebebasan untuk menjadi diri mereka sendiri. Kebebasan untuk menjalin hubungan asmara. Kebebasan untuk berbuat sesuka hati mereka.

Intinya, kasihan lah pokoknya. 

Di luar popularitas yang mereka dapetin. Sedih aja lihat para netizen sana kejam setajam silet dalam hal berkomentar. Netizen itu hompimpa alaikum gambreng pada jadi hakim semua, haghaghag. Semuanya menggugat, memaki, sampai membuat depresi.

Nggak heran, kalau tingkat buli di sana lumayan tinggi. Nggak kalah dengan tingkat deskriminasi gender.

Duh. 

Hmm dengan aku mencoba memahami hidup mereka yang tidak mudah. Nggg aku jadi lebih menghargai kerja keras mereka. Setidaknya kalaupun mau misah-misuh, ya sebatas keluar dari bibir aja. Nggak sampai nulis di sana-sini, lalu bikin artisnya lama kelamaan mau bunuh diri misalnya, karena saking udah nggak tahan.

Serem kan ya? T_T

Gimanapun, mereka pernah bikin aku ketawa, pernah bikin aku merenung, pernah menemani kegalauan akutku, pernah membantuku menemukan topik obrolan. Dan lain-lain. Sekecil apapun itu, aku tetap ingin berterima kasih. 

Satu hal yang puaaaaling penting. Korea mengajarkanku untuk senantiasa menikmati makanan. Di balik rasa makanan yang kadang ajaib, pasti ada satu rasa yang bisa dinikmati. Jadi kurangi sikap membuang makanan, kalau bisa tinggalkan sama sekali. Heuheu.. 

Rabu, 29 April 2015

Netherland, Sebuah Hutang.

Dengan Belanda, aku merasa memiliki hutang. Suatu hari aku harus menginjakkan kaki di sana. Meski hanya sekali dalam seumur hidup.

Entah, bagaimana awalnya. Mungkin karena sejauh ini lumayan banyak novel tentang setting atau konflik beraroma Belanda yang pernah aku baca. Nggak, hal tersebut nggak lantas membuatku banyak tahu tentang Belanda. Hanya, aku dibuatnya familiar.

Bukan Jepang yang hampir setiap turis memasukkannya ke dalam daftar the most wanted to go. Bukan Paris yang (katanya) romantis. Atau London yang menarik. Tapi Belanda.

Ini membuatku dejavu. Seperti saat bermimpi mengunjungi Bosscha. Dan ini bisa aku capai meski butuh waktu yang cukup lama.

Saat mengikuti lomba tulis yang hadiahnya summer course ke Belanda. Aku semangat betul. Sampai download puluhan jurnal, haha. Ini serius! Meskipun naasnya, jurnal-jurnal itu nggak aku baca! Topiknya mendadak bermanuver. Temanya aku persempit lagi.

Belum pernah aku seserius itu ikut lomba. Meskipun aku sebenarnya bisa lebih serius dari kemarin. Bah. Lomba beraroma Korea itu sempat memporakporandakan fokusku, hahaha. Meskipun nggak jadi sih akhirnya. *kecut*

Daaaan sekarang aku nggak tahu. Lomba Belanda itu saingannya banyak. Tulisannya yang dilombakan sampai saat ini udah mencapai 480-an. Iya, gilak. Kenapa begitu banyaaak? T__T

Hanya kuasa Allah, doaku yang bertarung di atas langit, dan takdirku sendiri yang bisa membuatku terpilih jadi pemenang. Hiks sungguh, bahkan almarhum Ayahku tahu, kalau aku mau ke Belanda. Dan aku harus ke sana bagaimanapun caranya.



Hutang itu harus dilunasi bukan?



 

Jangan Salahkan Temanmu


Temanku pernah bilang. "Kalau kamu hanya memendam ceritamu sendiri. Menganut prinsip menceritakannya semuanya pada Allah. Hanya Allah semata. Ya jangan salahkan kalau teman-temanmu tak ada yang membantu. Mereka bukan tidak ingin membantu. Tapi tidak tahu harus membantu apa. Tidak tahu harus bagaimana."

Aku seolah keselek kulit durian. Tidak bisa merespon apa-apa. Mungkin dia benar. Tapi kan, tapi.. 

Ah sudahlah. Kamu saja yang cemen Ana. Cemen level lempeng bumi yang paling dasar, saking cemennya.

I'am

I'am okay. I'am okay. I'am okay. I think i'am okay. Actually, i'am just pretending to be okay. I'am really trying to be okay. I wanna make everyone trust me that i'am okay. But failed. I'am not okay. Ottoke?

Senin, 27 April 2015

Peerby, Mendekatkan Diri dengan Tetangga


Salah satu permasalahan hidup tinggal di kota ialah tidak kenal tetangga! Mereka adalah sekumpulan orang-orang sibuk dengan jadwal padat merayap. Sehingga tetangga kanan-kiri seringkali diacuhkan tanpa sadar. Mau memulai menyapa, eh sudah kepalang canggung. 

Mereka menjadi asing satu sama lain. Bertemu nyaris setiap hari namun tidak tahu nama. Dekat namun jauh. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di kontak list ponsel pintar mereka.

Berikutnya, permasalahan sebenarnya datang. Ketika mereka membutuhkan sesuatu untuk suatu acara ataupun suatu kegiatan atau gandengan untuk jalan-jalan namun tak ada satupun teman atau sahabat yang bisa mewujudkan. Nah, loh! Galau melanda. 

Mau mengetuk pintu tetangga, tentu tidak nyaman. Jangankan meminjam barang atau mengajak bepergian ke suatu tempat. Tahu namanya saja tidak. 

Beruntung terdapat bangsa Belanda yang peduli dengan keadaan seperti itu. Daan Weddepohl tidak tinggal diam dan langsung mengeksekusinya menjadi sebuah aplikasi. Maka lahirlah, Peerby!


Peerby merupakan sebuah aplikasi ponsel dan website yang memudahkan masyarakat urban untuk saling meminjamkan barang dan berkomunikasi dengan tetangga sekitar mereka. Dengan Peerby, tidak ada lagi muncul alasan canggung untuk menyapa tetangga kanan-kiri. Jaringan Peerby membantu mengudarakan berbagai kebutuhan antar tetangga.
Selain itu, Peerby juga membuat pengeluaran menjadi jauh lebih hemat. Tidak perlu keluar ongkos membeli barang baru. Tidak perlu menambah polusi udara demi meminjam barang ke rumah saudara atau teman di daerah nuh jauh di sana. Dan yang paling penting ialah, galau karena tidak punya teman bisa disingkirkan dengan mudah.


Peerby secara tidak langsung membuat masyarakat urban menjadi berkomunikasi. Tidak melulu menjadi generasi penunduk yang kerap memelototi layar. Peerby mendekatkan orang-orang yang sebelumnya memang berada dekat di sekitar mereka. Namun mereka abaikan karena tuntutan gaya hidup dan lingkungan.
Sejak websitenya diluncurkan pada tahun 2012. Peerby dengan cepat bisa menjangkau 100.000 anggota aktif dan lebih dari 4000 objek yang bisa dipinjam dalam kurun waktu di bawah 30 menit. Pada tahun 2014, Peerby juga memenangkan penghargaan sebagai ‘best new urban app’. Mengalahkan para pesaingnya yang berasal dari negara-negara di seluruh penjuru dunia. Peerby memiliki komunitas yang tersebar di Belanda, Belgia, London, Berlin, dan beberapa kota di US.
Nah, lalu bagaimana cara mengakses dan menggunakannya? Caranya cukup mudah. Siapapun kalian, khususnya yang tinggal di kota, bisa mendatar langsung di website atau mengunduhnya terlebih dulu di Playstore. Setelah terdaftar dan memasukkan alamat, maka Peerby akan membuka jaringan dengan tetangga sekitar kalian. Permasalahan selesai.


Ketika membutuhkan barang atau teman bermain, tinggal menuliskannya di Peerby. Maka tetangga yang letaknya tidak jauh dari jaringan tempat tinggal kalian, akan merespon dan memberikan solusi.
Cukup mudah bukan?
Konon, kata pepatah populer di antara orang Belanda. ‘better a good neighbour than a far friend.’ 
Permasalahan ini terlihat sepele. Cenderung diabaikan. Namun bangsa Belanda kerap menemukan celahnya untuk berinovasi dan melakukan perbaikan terhadap lingkungan di sekitarnya. 
Secara tidak langsung, Peerby mengajarkan kita tentang dua hal. Pertama, bahwa hidup bertetangga menjadi sangat penting. Terlebih di zaman ketika bertatap muka dan berkomunikasi menjadi peristiwa yang semakin langka. Kedua mengenai inovasi, bahwa banyak sekali permasalahan di sekitar kita yang sebenarnya bisa dijadikan inspirasi untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Referensi Tulisan dan Gambar
           

Negeri Penjaring Matahari


Suka galau karena listrik tiba-tiba mati saat menjelang ujian? Saat tugas sekolah menuntut diselesaikan saat itu juga? Saat smartphone kesayangan mengalami sakaratul maut? Padahal tidak ada angin puting beliung maupun hujan badai. 



Greget ingin punya kekuatan bulan yang bisa menjaring energi matahari?

Kabar gembiranya, kalian tidak perlu menjadi anggota Sailormoon untuk mewujudkannya. Karena berkat kreativitas orang Belanda, kalian bisa menjaring matahari sambil selonjoran santai kayak di pantai.

Perkenalkan, alat penjaring Matahari itu bernama WakaWaka. Sebuah lampu LED portabel bertenaga surya yang juga berfungsi sebagai power bank. Dalam bahasa Swahili, WakaWaka berarti bersinar terang.


Sejarah WakaWaka bermula pada tahun 2010.
Saat itu, Sang kreator, Camille van Gestel and Kim van der Leeuw sedang mengikuti green competition dengan menggunakan lampu LED di ajang piala dunia 2010. Setelah menyabet juara, Camilie dan Kim mulai merancang proyek tentang sumber penerangan yang bisa menjangkau seluruh keluarga dari kalangan menengah ke bawah.

Perlu diketahui, masih terdapat sekitar 1.2 miliar masyarakat di negara berkemban yangg masih menggunakan lampu minyak untuk sumber penerangan mereka. Selain rentan memicu kebakaran, kondisi tersebut juga memakan banyak biaya.


Pada tahun 2012, WakaWaka Light mulai diproduksi. Camilie tak lupa mengajak Maurits Groen sahabatnya, yang saat ini menjadi salah satu pendiri WakaWaka.  

Terinspirasi dari dengan ide Frans Biegstraaten tentang lampu LED energi surya dalam botol. WakaWaka Light dibuat dengan menggunakan teknologi chip energi surya. Hasilnya, sel surya yang berfungsi mengubah sinar matahari menjadi tenaga listrik bersifat lebih efisien sampai 200 %. Terutama ketika intensitas cahaya rendah.  Biaya yang dibutuhkan pun relatif terjangkau, di bawah $ 25.

 






Selain itu, WakaWaka didesain sedemikian rupa berbentuk compact mungil yang mudah dibawa ke mana saja. Bisa dijemur sesuka hati. Digeletakkan begitu saja, disematkan pada tutup botol, maupun digantung berjuntai. 

WakaWaka juga berhasil meraup dana dari situs crowdfunding Kickstarter. Proyek ini menarik banyak perhatian dan mendapat dukungan yang positi dari media, pembisnis, sampai LSM. 

Pada tahun 2013, WakaWaka berinovasi menambah kemampuan mengisi daya batterai ponsel. Terciptalah WakaWaka Power dengan fungsi ganda, sebagai lampu penerang sekaligus sebagai power bank.


Tahun 2014, WakaWaka kembali berinovasi menciptakan WakaWaka Base. Jenis ini memiliki kemampuan menyimpan energi matahari yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Jenis ini diciptakan dengan lebih efisien, bahkan bisa menjaring Matahari dalam keadaan mendung sekalipun. Bisa dimanfaatkan oleh para pecinta alam, pecinta jalan-jalan, maupun para tenaga medis dalam keadaan darurat.




Cara penggunaan seluruh generasi WakaWaka ini terbilang sama. Dijemur sepanjang hari di bawah sinar matahari. Sehingga bisa langsung digunakan berdasarkan kebutuhan saat malam hari.

Eits, meskipun alat penolong sejuta umat ini hanya memanfaatkan energi matahari, namun performa baterainya cukup tinggi, loh! Bahkan dapat bertahan selama beberapa tahun dengan kapasitas pemakaian setiap hari. 

Keren ya? Sudah hemat energi, hemat kantong, bisa menjaring sinar matahari pula. 

Lebih kerennya lagi, proyek WakaWaka memadukan prinsip bisnis dan sosial. Sepak terjangnya di bidang kemanusiaan tidak main-main. Proyek yang mengusung kampanye penjualan ‘buy one, give one’ ini, dengan lihainya terus menjangkau beberapa negara berkembang yang tidak memiliki akses listrik.

Di Syria, WakaWaka digunakan kurang lebih sebanyak 56.550 oleh para korban perang dalam pengungsian. Di Afrika Barat, WakaWaka membantu menerangi pekerjaan para tenaga medis dalam proses penyembuhan korban terjangkit Ebola. Di Filipina, WakaWaka membantu para penduduk setempat menata kembali kota mereka setelah amukan topan Haiyan yang menyebabkan kerusakan di mana-mana.

Di Haiti, sebuah negara yang berada di kepulauan Karibia. WakaWaka membantu memasok penerangan untuk memenuhi kebutuhan listrik penduduk setempat dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Di Mali, WakaWaka bekerja sama dengan yayasan Dogon Woman untuk membantu memberdayakan perempuan dari segi finansial maupun pelatihan.

Meskipun nyaris tidak diberitakan, WakaWaka diam-diam telah menjangkau Indonesia. Tepatnya di desa kecil bernama Tambak, kawasan Borneo. Terdapat lima buah WakaWaka yang digunakan untuk memfasilitasi proses belajar anak-anak di malam hari. Desa Tambak yang terletak di kawasan hutan hujan tropis ini rupanya memiliki sedikit pasokan listrik. Sehingga para penduduknya harus rela bergantian menikmati listrik dengan tetangga kanan-kiri mereka.  

Baru baru ini, WakaWaka dengan sigap akan mengirimkan bantuan penerangan pada penduduk Nepal setelah bencana alam gempa berkekuatan 7.8 SR menyerang. Mereka berencana mengirimkan 2000 WakaWaka Light untuk membantu penduduk setempat dengan kondisi 60 % wilayah gelap gulita tanpa akses listrik. 










Sepak terjang proyek WakaWaka ini akan semakin meluas menjangkau kawasan gelap gulita di seluruh penjuru dunia.


Berkat kesuksesannya dari segi bisnis maupun dari segi sosial. Tidak heran jika WakaWaka banyak menyabet beragam penghargaan bergengsi.  

       
Dalam berinovasi, Bangsa Belanda sangat peka menangkap beragam ide. Mereka seringkali berhasil mengubah sebuah kegalauan akan persitiwa di sekitar mereka menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tidak hanya untuk kebaikan bangsa mereka sendiri, namun juga untuk kebaikan seluruh dunia. Sikap peka inilah yang patut ditiru oleh Bangsa Indonesia.

Proyek WakaWaka membuat bangsa Belanda mampu menjaring matahari dan membagikan cahayanya ke seluruh dunia. Lalu kita? Dengan cara apa kita membagikan sesuatu yang bermanfaat pada dunia? Mari bergandengan tangan untuk memikirkannya bersama-sama.

Referensi Tulisan
http://www.theguardian.com/sustainable-business/sustainability-consultant-entrepreneur-stories-sell?CMP=twt_gu
http://www.theguardian.com/sustainable-business/sustainability-consultant-entrepreneur-stories-sell?CMP=twt_gu

Referensi Gambar