Rabu, 29 April 2015

Netherland, Sebuah Hutang.

Dengan Belanda, aku merasa memiliki hutang. Suatu hari aku harus menginjakkan kaki di sana. Meski hanya sekali dalam seumur hidup.

Entah, bagaimana awalnya. Mungkin karena sejauh ini lumayan banyak novel tentang setting atau konflik beraroma Belanda yang pernah aku baca. Nggak, hal tersebut nggak lantas membuatku banyak tahu tentang Belanda. Hanya, aku dibuatnya familiar.

Bukan Jepang yang hampir setiap turis memasukkannya ke dalam daftar the most wanted to go. Bukan Paris yang (katanya) romantis. Atau London yang menarik. Tapi Belanda.

Ini membuatku dejavu. Seperti saat bermimpi mengunjungi Bosscha. Dan ini bisa aku capai meski butuh waktu yang cukup lama.

Saat mengikuti lomba tulis yang hadiahnya summer course ke Belanda. Aku semangat betul. Sampai download puluhan jurnal, haha. Ini serius! Meskipun naasnya, jurnal-jurnal itu nggak aku baca! Topiknya mendadak bermanuver. Temanya aku persempit lagi.

Belum pernah aku seserius itu ikut lomba. Meskipun aku sebenarnya bisa lebih serius dari kemarin. Bah. Lomba beraroma Korea itu sempat memporakporandakan fokusku, hahaha. Meskipun nggak jadi sih akhirnya. *kecut*

Daaaan sekarang aku nggak tahu. Lomba Belanda itu saingannya banyak. Tulisannya yang dilombakan sampai saat ini udah mencapai 480-an. Iya, gilak. Kenapa begitu banyaaak? T__T

Hanya kuasa Allah, doaku yang bertarung di atas langit, dan takdirku sendiri yang bisa membuatku terpilih jadi pemenang. Hiks sungguh, bahkan almarhum Ayahku tahu, kalau aku mau ke Belanda. Dan aku harus ke sana bagaimanapun caranya.



Hutang itu harus dilunasi bukan?



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar