Minggu, 17 Mei 2015

Tips Menyederhanakan Satu Dua Persoalan Hidup

Di suatu hari yang indah, saya seperti biasa menyenggol seorang teman. Saya memanggilnya bibik, dan dia memanggil saya tante, hahaha. 

Bibik ini suka sekali nongkrong di depan laptop atau menekuri hpnya untuk update berita terbaru. Bagaimana ya bilangnya? Dia bukan orang sosial media, yang apa-apa harus update menceritakannya ke seluruh penjuru dunia. Namun dia adalah jenis orang yang memanfaat sosial media untuk kesejahteraan hidup. Misalnya, dengan browsing berita terkini dan berbelanja efektif yang efisien, haha.

Bibik ini paling tidak betah berpanas-panasan di pasar sambil memilah pakaian. Menurutnya, kalau semua bisa didapatkan di online, kenapa harus memanggang diri di bawah terik sinar matahari? wkwkwk.

Awalnya saya ingin menjitak kepalanya keras-keras. Dih, di online kan rata-rata model pakaiannnya gitu, standar semua. Atau di online itu harganya mahal-mahal dan nggak bisa ditawar. Intinya, dulu saya berpikiran bahwa online shop itu hanya diperuntukkan untuk rakyat kelas menengah yang sibuk kerja dengan harga selangit. XD


Namun bibik tidak peduli. Saat itu ia tetap memelototi layar laptop sambil terus memilah-milih. 

Lalu waktu terus beranjak. Handphone juga terus berinovasi was wis wus bak kecepatan cahaya. Pun segala macam aplikasi mulai muncul. Salah satunya adalah instagram.

Nah, aku pikir instagram ini tempat posting foto-foto untuk pamer doang, wkwkwk. Males kan ya? Namun ternyata nggak sesempit itu yak? Hahaha.. Nah bibik ini cukup update lah soal instagram. Bukan update foto, tapi update toko murah dan enak untuk berbelanja. Astaga bibik! 

Apalagi di zaman sekarang ya.. zaman di saat undangan pernikahan menghampiri layaknya hujan Bogor. Ujug-ujug datang keroyokan. Pernah sampai tiap weekend sudah terisi jadwal kondangan.   

Alamak! Ini salah satu permasalahan dunia. Kondangan muluk! Dengan tamu kondangan yang biasanya itu-itu saja. Ketemunya lo lagi lo lagi, hahaha.

Awalnya  aku termasuk cuek soal penampilan. Duh, yang penting datang kan ya? Meskipun cuma tampil 'seadanya' dengan baju 'seadanya'. Jika sudah begini bibik biasanya akan mengomeliku panjang lebar.

"Berpakaian rapi itu merupakan dari menghormati yang punya acara," pesannya sok tahu.

Aku tidak serta merta menerima pesannya. Awalnya bahkan aku misah-misuh di depannya. Namun lama kelamaan, hmm iya ya? Yah, setidaknya ganti baju lah. Meskipun gantinya hanya berputar-putar di antara beberapa baju, hahaha

Belum lagi soal kado pernikahan! Ini merupakan permasalahan kedua yang tidak kalah peliknya. Belum soal nunggu iuran dengan teman-teman. Intinya cukup memakan banyak waktu dan perang argumentasi! Ada yang ingin memberi kado A, sementara lainnya lebih setuju jika kado B yang dibeli.

Nah kalau online kan semuanya jadi mudah. Tinggal lihat foto, lalu pilih bareng-bareng, setelah sepakat baru deh kita transaksi.

Salah satu toko online yang mudah ditemui di instagram dan mudah diakses di layar laptop tanpa membutuhkan banyak buffering karena kuota yang menipis, shopious salah satunya, hahaha.

Shopious ini menurutku udah seperti toko kelontong. Namun versi online-nya, hahaha. Semuanya ada. Terlebih ketika banyak acara kondangan menanti di depan mata. Tidak perlu ribet-ribet. Mau cari pakaian yang kece, di sana cukup banyak model. Mau nyari kado juga banyak! Dari mulai barang-barang couple unyu sampai peralatan masak.

Hoho soal harga cukup murah dan bersaing loh. Jadi tidak perlu takut dompetnya tercekik sampai sekarat.

Apa kabar bibik? Jangan ditanya, dia demen banget nemu toko kelontong aka online shop yang lengkap ini, hahaha. Bisa-bisa dia seharian nongkrongin di depan laptop, lalu biasanya dia akan pamer kalau sudah berbelanja barang bagus dengan harga terjangkau.



 

 



Manusia

Manusia. Sekeren-kerenanya. Sekaya-kayanya. Serupawan-rupawannya. Mereka pasti hanya ingin dikenal sebagai dirinya. Bukan karena harta, prestasi, maupun paras.

Karena itu, aku ingin meminta maaf. Sudah pernah memandangmu penuh iri. Iri dengan tingkat pendidikan yang berhasil kamu raih. Iri pada pengalaman yang berhasil kamu jajal. Iri pada silaumu yang tertangkap oleh mataku.

Maaf ya, untuk yang kesekian kalinya. Bagaimanpun, begitulah sosokmu terlihat dari kacamata awam sepertiku. Bagi orang yang tidak pernah bersinggungan hidup denganmu, wajar kan jika aku melihatmu dari apa-apa yang tampak?

Maaf, karena aku mengabaikan dirimu yang sebenarnya. Bagaimanapun, kamu juga manusia. Pernah tidak menjadi siapa-siapa. Pernah berjuang penuh kesulitan. Pernah merasa nyaris putus asa. Pernah melakukan khilaf. Apapun itu yang menandakan bahwa kamu tidak sempurna. 

Karenanya, aku benar-benar minta maaf. 

Belajar dari Korea

Semakin aku mengenal Korea. Semakin sering nonton variety shownya sampai dramanya. Semakin aku tahu, bahwa artis-artis itu, idol-idol itu, bintang-bintang itu membayar mahal atas penampilan mereka di layar kaca.

Adalah kebebasan yang mereka jadikan alat transaksi. Kebebasan untuk menjadi diri mereka sendiri. Kebebasan untuk menjalin hubungan asmara. Kebebasan untuk berbuat sesuka hati mereka.

Intinya, kasihan lah pokoknya. 

Di luar popularitas yang mereka dapetin. Sedih aja lihat para netizen sana kejam setajam silet dalam hal berkomentar. Netizen itu hompimpa alaikum gambreng pada jadi hakim semua, haghaghag. Semuanya menggugat, memaki, sampai membuat depresi.

Nggak heran, kalau tingkat buli di sana lumayan tinggi. Nggak kalah dengan tingkat deskriminasi gender.

Duh. 

Hmm dengan aku mencoba memahami hidup mereka yang tidak mudah. Nggg aku jadi lebih menghargai kerja keras mereka. Setidaknya kalaupun mau misah-misuh, ya sebatas keluar dari bibir aja. Nggak sampai nulis di sana-sini, lalu bikin artisnya lama kelamaan mau bunuh diri misalnya, karena saking udah nggak tahan.

Serem kan ya? T_T

Gimanapun, mereka pernah bikin aku ketawa, pernah bikin aku merenung, pernah menemani kegalauan akutku, pernah membantuku menemukan topik obrolan. Dan lain-lain. Sekecil apapun itu, aku tetap ingin berterima kasih. 

Satu hal yang puaaaaling penting. Korea mengajarkanku untuk senantiasa menikmati makanan. Di balik rasa makanan yang kadang ajaib, pasti ada satu rasa yang bisa dinikmati. Jadi kurangi sikap membuang makanan, kalau bisa tinggalkan sama sekali. Heuheu..