Minggu, 17 Mei 2015

Belajar dari Korea

Semakin aku mengenal Korea. Semakin sering nonton variety shownya sampai dramanya. Semakin aku tahu, bahwa artis-artis itu, idol-idol itu, bintang-bintang itu membayar mahal atas penampilan mereka di layar kaca.

Adalah kebebasan yang mereka jadikan alat transaksi. Kebebasan untuk menjadi diri mereka sendiri. Kebebasan untuk menjalin hubungan asmara. Kebebasan untuk berbuat sesuka hati mereka.

Intinya, kasihan lah pokoknya. 

Di luar popularitas yang mereka dapetin. Sedih aja lihat para netizen sana kejam setajam silet dalam hal berkomentar. Netizen itu hompimpa alaikum gambreng pada jadi hakim semua, haghaghag. Semuanya menggugat, memaki, sampai membuat depresi.

Nggak heran, kalau tingkat buli di sana lumayan tinggi. Nggak kalah dengan tingkat deskriminasi gender.

Duh. 

Hmm dengan aku mencoba memahami hidup mereka yang tidak mudah. Nggg aku jadi lebih menghargai kerja keras mereka. Setidaknya kalaupun mau misah-misuh, ya sebatas keluar dari bibir aja. Nggak sampai nulis di sana-sini, lalu bikin artisnya lama kelamaan mau bunuh diri misalnya, karena saking udah nggak tahan.

Serem kan ya? T_T

Gimanapun, mereka pernah bikin aku ketawa, pernah bikin aku merenung, pernah menemani kegalauan akutku, pernah membantuku menemukan topik obrolan. Dan lain-lain. Sekecil apapun itu, aku tetap ingin berterima kasih. 

Satu hal yang puaaaaling penting. Korea mengajarkanku untuk senantiasa menikmati makanan. Di balik rasa makanan yang kadang ajaib, pasti ada satu rasa yang bisa dinikmati. Jadi kurangi sikap membuang makanan, kalau bisa tinggalkan sama sekali. Heuheu.. 

1 komentar:

  1. Iyaaaa. Betuuul.
    Nonton The Flower in Prison, An. Bagus deh #lha

    BalasHapus