Senin, 17 Oktober 2016

SBT OWOP II ROMANCE ANGST- CHAPTER 12: KALIBRASI


Ini pertama kalinya aku ikut SBT (Story Blog Tour). Kami keroyokan menulis cerita tanpa konsep. Hanya berdasarkan tema. Jadi kami bertugas meneruskan cerita sebelumnya dengan khayalan masing-masing. Deg-deg ser proses bikinnya, hahaha. 

Kali ini temanya romance-angst. Astaga baca awalnya aja udah bikin shock dengan acara silet-siletan si tokoh utama, haha. Tapi seru juga setelah lama-lama diikuti ceritanya. Dan beginilah ceritaku yang mendapat bagian dekat ending. Bagian ini bagian galau, bertugas agak merapikan cerita tapi harus menyisakan misteri yang harus diselesaikan penulis berikutnya. XD 

Berikut daftar link bagi yang ingin membacanya dari chapter awal.

Chapter 1 -> Luka Elisa
Chapter 2 -> Self Harm
Chapter 3 -> Friendzone
Chapter 4 -> Dua Sisi Koin
Chapter 5 -> Teman Baru
Chapter 6 -> Permulaan
Chapter 7 -> Di Luar Dugaan
Chapter 8 -> Luka
Chapter 9 -> Terhempas dari Cinta
Chapter 10 -> Perasaan Tezar
Chapter 11 -> Jelas 



Cekidot.

Aku mencoba menulis dari sudut pandang Elisa. Setiap orang memiliki titik kalibrasi dalam hidupnya. Saat kemampuannya bertahan seseorang mencapai titik nol. Maka semesta akan menuntunnya tertatih-tatih menuju angka yang bernilai. 

Kalibrasi
Hongdae, Seoul, South Korea.

Saat kau berusaha merusak dirimu sendiri, kau akan berpikir, kau hanya merusak dirimu dan masa depanmu. “Kau pasti bisa mengatasinya,” begitulah hiburan yang selalu kau katakan. Tapi saat kau tahu bahwa kau telah berhasil merusak hidup orang lain. Maka kau akan merasa seperti sampah. Kau telah membuat kekacauan dunia. Duniamu sendiri dan dunia orang lain. Dan tidak ada kalimat hiburan selain, kau harus berubah menjadi lebih baik lagi.
Elisa

Elisa merapatkan jaket kulitnya. Udara Hongdae sore hari di musim peralihan seperti ini selalu membuatnya sedikit kedinginan. Kakinya yang jenjang diayunkan lebar-lebar. Sesekali terdengar suara remukan daun maple di bawah sepatu haknya. Kedai langganan yang hampir rutin ia datangi saat hore hari telah tampak di depan mata.

“Elisa, annyeong!” Seorang perempuan dewasa muda menyapanya ramah begitu memasuki kedai.

Elisa memeluk perempuan itu, “Jiwon Eonni, di tempat biasa.” Lalu ia mendekati tempat duduk paling ujung dekat jendela. Tempat favoritnya selama lima tahun terakhir ini. Tidak heran jika pemilik kedai sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.

“Silahkan, adik manis,” Jiwon Eonni mengerlingkan mata, “Tempat itu sudah menjadi milikmu sejak lama.”

Elisa terkekeh.

“Hari ini Americano seperti biasa?”

“Aniya, Goguma Latte juseyo."

Ada yang ingin Elisa rayakan hari ini. Tepatnya, yang ingin Elisa kenang. Sesuatu yang manis. Manis berselimut pahit. Persis seperti minuman goguma latte yang ia pesan.

“Masih diet?” Goda Jiwon sambil meletakkan pesanannya. Ia selalu menggoda Elisa yang hampir selalu memesan minuman tanpa makanan.

"Eonni, jeongmal." Elisa tergelak, “Aku bisa menyelinap ke dapur kalau aku lapar. Berhentilah menggodaku.”
            
Jiwon terkekeh. Ia segera meninggalkan Elisa sendirian. Pelanggan kedainya semakin sore semakin ramai berdatangan.
            
Tinggallah Elisa, dan kenangan yang berusaha ia peluk tanpa rasa sakit. Angin di musim gugur menyentuh rambutnya pelan. Mendadak perasaannya berkecamuk. Benar kata orang, musim gugur adalah musim tergalau. Seluruh kenangan buruk maupun manis akan mencuat tanpa permisi di musim peralihan seperti ini.
           
Kenangannya akan negeri yang sudah lama dirindukannya mengelindan tanpa diminta. Mama, Papa, Alya, Tezar. Ah Tezar..

Jakarta, Indonesia, 6 tahun yang lalu.
            
Elisa menatap langit-langit kamarnya dengan bibir melengkung. Air matanya mengalir dari sudut matanya tanpa bisa dicegah. Berbeda dengan air mata sebelumnya. Kali ini ia menangis karena bahagia. Hubungannya dengan orangtuanya membaik tanpa ia duga. Dan Tezar tanpa disangka, kini telah menjadi kekasihnya.
           
Malam terakhirnya di rumah sakit, mama menceritakannya semuanya.
            
“Sayang, apa kau ingat alm Om Hendra?” Tanya mama tiba-tiba.
            
Elisa mengangguk. Siapa yang bisa melupakan kakak papa yang super baik itu.
            
Mama menghela napas. Elisa menyelidiki wajahnya dengan cermat. “Ada apa Ma?”
            
Lalu mengalirlah cerita mama. Tentang Om Hendra yang merupakan cinta pertama Mama. Tentang Mama yang tidak menyangka jika Om Hendra adalah kakak papa. Tentang papa yang curiga kalau Elisa sebenarnya anak Om Hendra. Kesalahpahaman itulah yang menjadi penyebab ributnya mama dan papa.
            
Elisa menutup mulut. “Jadi, apaa.. aku?”
            
Mama lekas menggeleng, “Tidak sayang. Kau anak kandung Papa. Mama dan Om Hendra lekas membunuh perasaan kami semenjak Mama menikah dengan Papamu.”
            
Elisa menarik napas. Mama menyentuh tangannya.
            
“Tapi semua itu sudah berakhir sayang,” ucap Mama, “Segala bekas sayatan di tanganmu telah menyadarkan Papa.”
            
Elisa mengerjap tidak mengerti.
            
Mama memanggil seseorang untuk masuk. Itu papa. Dengan langkahnya yang tersaruk, sikapnya yang kikuk, ia menemui Elisa. Mereka bertatapan sebentar, sebelum Papa menarik Eliza ke dalam pelukannya.
            
“Maafkan Papa sayang,” ucapnya tersedu-sedu, “Sekali lagi, maafkan Papa.”
            
Elisa tidak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk kencang dalam pelukan hangat papa.
***
            
Jika suasana di pagi hari ini mimpi, Elisa tidak ingin terbangun. Kelakar mama dan papa, sarapan di meja makan, dan pesan Tezar barusan.
            
El, setengah jam lagi gue jemput lo. 
            
Elisa mematut diri di depan cermin dengan cengiran tanpa henti. Ia tidak sabar bertemu Tezar. Ia tidak sabar menceritakan semuanya. Ia tidak sabar ingin memulai hidup baru tanpa tambahan sayatan satupun di tubuhnya. Seumur hidup, belum pernah Elisa sebahagia ini. Ia menjadi optimis dengan hidupnya.               
Tapi pesan susulan Tezar mengubah segalanya.
            
El, sori, gue harus ke rumah sakit.
            
Elisa memicingkan mata. Siapa yang sakit? Ia buru-buru memencet nomor Tezar.
            
“Alya El,” sahut Tezar dengan suara bergetar.
            
“Kenapa Alya?”
            
“Dia menyilet tubuhnya sama seperti yang pernah lo lakukan.”
            
Elisa beku di tempatnya berdiri. Astaga apa yang terjadi sebenarnya? Ia segera menyambar tas dan menelpon taksi.
            
“Ma, Pa, aku pergi dulu,” teriaknya dengan buru-buru.
***
            
Tubuh Elisa bergetar hebat. Jemarinya menekan gagang pintu yang berusaha ditariknya keluar. Badannya lunglai tidak berdaya. Tenaganya terhisap oleh perasaan bersalah luar bisa.
            
“Gue sayang lo, Zar. Sejak dulu. Gue sayang sama lo sejak kecil. Sejak lo masih menjadi milik gue seutuhnya. Sejak lo belum kenal Puteri Elisa yang manja itu. Sejak lo belum dipelet cewek sialan itu. Gue sayang lo,” Alya berteriak setengah histeris.
            
“Hentikan Elisa,” desis Tezar, “Elsa nggak pernah melet gue.”
            
Air mata Alya mengalir deras. Sedetik kemudian ia tertawa hampa, “Bahkan dengan keadaan seperti ini lo masih belain dia?” Alya mengangkat tangannya yang penuh dengan perban.
            
“Gue melakukan semua ini karena lo Tezar!” Teriaknya histeris, “Gue bahkan ingin ngebunuh cewek sialan itu.” Tubuhnya meronta hebat.

Mamanya lekas memegangi Alya yang tidak terkendali. Tezar hanya mematung di tempatnya. Semuanya terjadi begitu cepat. Alya yang ditemukan berlumuran darah, menyilet lengannya, bahkan hendak memutuskan nadinya sendiri, membuat kepalanya diserang pening yang luar biasa.

“Padahal tinggal sedikit lagi,” bisik Alya di pelukan mamanya, “Sedikit lagi gue bisa membuat Elisa membunuh dirinya sendiri. Andai cewek sialan itu nggak melakukan tindakan bodoh kemarin.”

Tezar membelalak. Astaga apa jangan-jangan situs Young Blood itu? Ini semua ada kaitannya dengan Alya?
            
Elisa menutup mulutnya. Ia berusaha keras tidak menimbulkan suara. Dengan sempoyongan ia berlari ke arah taman rumah sakit. Dadanya mendadak sesak. Apa yang sudah ia lakukan? Apa yang sudah Alya lakukan? Apa yang sudah Tezar lakukan?
***
            
Elisa mengurung diri di dalam kamar. Ia menatap bekas sayatan yang berderet di sepanjang lengannya. Tidak, ia tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Ia sama sekali tidak menyangka. Tindakannya akan mempengaruhi hidup orang lain. Hidup Tezar. Hidup Alya.
            
Jika mengingat Alya, dada Elisa terasa sesak. Cewek secantik dan sepintar Alya rusak karena sifatnya yang selama ini kekanak-kanakan. Apa yang kemarin Alya ucapkan? Puteri Elisa yang manja? Alya benar. Selama ini ia seorang puteri terpuruk yang luar biasa manja. Mengandalkan Tezar sepenuhnya. Merepotkan anak itu. Membuat Alya berubah menjadi liar.
            
Elisa menangkupkan wajahnya ke tumpukan bantal. Air matanya tidak berhenti mengalir sejak tadi. Entah berapa banyak Tezar mencoba menghubungi ponselnya. Rasanya ia tidak ingin berurusan dengan siapapun malam ini. Ia mendadak diserang perasaan lelah yang luar biasa.
***
Bandara Internasional Soekarno Hatta.
            
“Apa kau yakin, sayang?” tanya Mama yang kesekian kali.
            
Elisa mengangguk, “Ini demi masa depanku, Ma.”
            
Mama dan Papa tidak bisa berbuat apa-apa. Elisa memutuskan pindah ke korea. Tinggal bersama Tante Anne, adik mama.
            
“Bagaimana dengan Tezar?”
            
Elisa terdiam. Ia menyerahkan amplop berwarna hijau tosca, “Tolong berikan ini untuk Tezar,” katanya, “Dan berjanjilah untuk tidak pernah menghubungi Tezar.”
            
“Sayang,” kata Mama.
            
“Ini demi kebaikan kami, percayalah.”
            
Mama dan Papa memeluknya sebelum panggilan penerbangan internasional menggema lantang.
***
Hongdae, Seoul, South Korea.
            
Saat suasana kedai terlihat sepi, Jiwon mendekati Elisa dengan sepanci kepiting biru. Aroma kepiting yang menggelitik hidungnya telah membuyarkan lamunannya tentang Jakarta.
            
“Musim gugur seperti ini enaknya menikmati kepiting,” cerocos Jiwon, “Oh ayolah, hentikan memikirkan nasib kedai ini,” kelakarnya.
            
Eliza terkekeh. Jiwon benar, musim gugur tanpa kepiting rasanya hampa. Ia lekas meremukkan bagian cangkang, dan disabetnya capit kepiting yang menggoda.
            
“Astaga, kupikir kau sedang diet.”
            
“Aku tidak akan pernah menolak kepiting, Eonni. Tidak sudi.”
            
Jiwon tersenyum lebar melihat Elisa yang tampak seperti tidak makan sebulan.  

 “Minggu depan aku pulang, Eonni,” ucap Elisa dengan mulut penuh.
            
“Ne?” Eonni menatap Elisa tidak mengerti, “Bukannya malam ini kau juga pulang ke apartemen?”
            
Elisa menggeleng, “Maksudku Jakarta, Eonni. Minggu depan aku pulang kampung.”
            
Jiwon terdiam.
            
“Gwancana Oenni. Aku tidak apa-apa,” Elisa tersenyum, “Sudah waktunya aku pulang, kuliahku juga telah selesai. Lagipula, orang tuaku di sana teramat merindukanku.”
            
“Apa kau tidak akan kembali ke sini?”
            
Elisa mengangkat bahu. “Tapi kurasa aku akan kembali,” tambahnya di detik berikutnya, “Hutangku terlalu banyak di kedai ini,” Elisa nyengir.
             
“Benar, kau harus membayar uang sewa membooking tempat duduk paling pojok setiap sore.” Jiwon terpingkal-pingkal, tapi kemudian ia terdiam, “Astaga, apa itu artinya?”
            
Elisa mengangguk, “Aku akan bertemu Tezar, Alya, semuanya.”
            
Jiwon menutup mulut, “Apa menurutmu mereka sudah menikah?”
            
Elisa berhenti mengunyah. Pandangannya berubah layu.
            
“Oh, sayang,” ucap Jiwon buru-buru, “Bukan itu maksudku.”
            
“Tidak eonni, aku tidak apa-apa,” Elisa menampakkan senyumnya, “Aku tidak tahu lagi soal mereka. Tapi meskipun mereka sudah menikah. Aku pastikan akan turut bahagia.”
            
Elisa terdiam beberapa saat. Ia benar-benar tidak memikirkan kemungkinan itu. Apa Tezar dan Alya sudah menikah? Apa benar, dirinya bisa ikut berbahagia? Oh Tuhan..

Bersambung..
           
           
           
           

           
           
           
           
           
           



Rabu, 10 Agustus 2016

[Review Suka-suka] Dongeng Seru dan Fakta Unik Binatang.

Buku ini, datang di siang bolong. Semakin menguatkan dugaan teman-teman kantor. Saya ga bisa diajak ngerumpi soal tas bagus atau sepatu murah, ha. Ana itu kerjaannya ngeborong buku. Adaaaa aja pengantar ekspedisi yang kucluk-kucluk nyariin mb Ana buat nganterin paket solid berbentuk persegi, hahaha. 

Saya pasrah, digodain, lantas nyengir (sok) manis. #opo

Errr fokus, An. :p

Baik, begini, kolaborasi mb Shabrina dengan hewan itu tidak pernah biasa. Selalu menghasilkan adegan combo \m/. 

Tak, tak, tak, ada yang menari lincah di kepala. Adegan-adegannya, potongan-potongan nasihat yang ingin disampaikan. Padu padannya seperti melahap semangkuk mie ayam dengan segelas es jeruk nipis. Bikin kukuruyuk perut saat ini.

Seluruhnya memuat 14 cerita, dengan beranegka ragam hewan. Entah hewan yang mudah dijumpai di sekeliling kita, atau hewan-hewan yang nyaris punah. Pesan di dalam buku sudah seperti suggesti. Semacam mantra yang diam-diam mengajak pembaca cilik untuk mencintai meraka. Hewan pun juga makhluk hidup. Punya hak yang sama untuk bahagia di lingkungannya. 

Dek, hewan-hewan itu baik. Asal rumahnya tidak diganggu. Asal kitanya tidak mengganggu. Sama seperti manusia, yang langsung meradang ketika dicolek-colek tidak sopan. 

Dek, hewan-hewan itu unik. Semakin dikulik, semakin kita akan dibuatnya takjub. Semakin tahu, semakin kita dibuatnya jatuh cinta. Semakin mengenal, semakin kita dibuatnya bersyukur. Terdapat ruang ilmu yang menjelaskan fakta unik hewan. Seru, deh.

Dek, hewan itu juga memiliki problematika hidup. Sama seperti kita-kita. Misalnya, kamu menginginkan tas baru. Seharian sudah membujuk Bapak, jawabannya nanti. Gantian merayu Ibu, hanya mendapat towelan di pipi, tas yang lama masih bisa dipakai, katanya. Tidak putus asa, kamu memutuskan menabung. Bang bing bung kamu menyisihkan uang saku. Sampai sebulan, uangnya cukup, eh rupa-rupanya Bapak dan Ibu sudah menyiapkan kejutan tas baru. Kamu bengong, dan sudah tahu rasanya menabung. Double menyenangkan.

Hewan-hewan di buku juga sama. Kita akan berkenalan dengan orang utan, bekantan, katak, kelinci, kuda nil, komodo, kucing, gajah, tikus, beruang, burung hantu, kupu-kupu, aaaah rame. Mereka punya masalah sendiri-sendiri. Dan bisa menyelesaikan masalahnya dengan cara yang baik.

Ana di bangku terdepan mengerjap menghayati.

Saya pribadi sukaaaa syekali dengan cerita Ran, si tikus pengerat yang banyak gaya :p. Lalu Bu Kelinci yang dramatis dengan sapu patahnya. Lalu lalu, Macaca yang memiliki cita-cita dan berusaha mewujudkannya. 

Jangan tergesa membeli barang yang sama, jika barang-barang yang lama masih bisa dipakai. -Bu Kelinci dan Sapu Patah-

Saya paling merasa tersindir di bagian ini, hahaha.

Kesimpulannya, buku dongeng ini cocooook untuk segala kalangan dan segala usia. Siapapun bisa menikmati. Hei, orang dewasa pun butuh dongeng untuk tetap waras menjalani hidup :p kembali menjadi anak-anak, yang masih doyan ingin tahu ini-itu, dan menganggap semua masalah adalah tantangan. Jangan gampang baper, ah.. :p 




P.S. Membeli buku ini di bulan Agustus, langsung ke penulisnya (mbak Shabrina WS), bisa dibebaskan ongkir ke seluruh Indonesia rayaaa. Kece ya mbak pendongeng satu ini, hoho.


Mengutip tulisan di belakang buku, 

Selamat membaca dan tetap semangat untuk terus belajar. \m/



















Kue Labu Nyonya Kinara (Terbit di Solopos)

errr.. ini dari kisah nyata. 

err.. settingnya di warung depan kostan yang pertama. objeknya, ikan kembung sambel balado yang rasanya bikin ileran. enaknya dibeli saat santai. makannya harus lahap sampai hanya tersisa tulang belulang.

kemudian, suatu pagi, saya dikagetkan. harga ikan kembung sambel balado itu berubah. kalau harganya normal malah bisa dapat 2 porsi, ugh. saya mencari tahu kenapa harganya mendadak melesat. dan tahu-tahu, ini hanya terjadi ketika si ibu itu yang melayani. tatkala saya berpapasan dengan ibu yang satunya, harganya jatuh normal. 

err.. saya kecewa. tapi saat itu tidak berbuat apa-apa. hanya berharap supaya tidak dilayani dengan ibu itu. 

err.. untuk melampiaskan kekecewaan, lahirlah dongeng ini. 

hal ajaib yang terjadi ialah, dongeng ini ditulis nyaris tanpa revisi, tanpa pengendapan yang lama. mulus lincah seperti jalan angkot Bogor di pukul satu pagi, atau seperti jalan rel commuter line di pukul lima pagi arah Bogor.

hal ajaib lainnya, dongeng ini berhasil meruntuhkan kekecewaan saya terhadap ibu itu. siapa tahu beliau tidak tahu, atau tidak sengaja, atau memiliki alasan valid yang tidak bisa seenaknya saya tuduh-tuduh.

begitulah, kadang dongeng-dongeng ini membawa keajaiban, pada saya, penulisnya sendiri.

enjoy!

Kue Labu Nyonya Kinara
Oleh: Ana Falesthein Tahta Alfina

Sejak pagi hari, kota Peddora telah ramai. Tuan Kumis Melintang menyapu daun yang berguguran. Tuan Topi Merah mengantarkan selebaran pengumuman. Beberapa anak muda memainkan alat musik. Sisanya melangkah bekerja. Ke arah barat menuju ladang dan kebun. Ke arah timur menuju pertokoan aneka rupa.
 Termasuk toko kue milik Nyonya Kinara, telah bersiap sejak matahari terbit. Aromanya tercium ke segala penjuru. Menyelinap memasuki pintu-pintu rumah. Menyusup naik melewati calah-celah. Memanjat melewati tangga. Menggelitik hidung Daine yang sedang terlelap.
“Kue labu. Rasanya enaak. Nyam nyam.” Daine mengigau. Di dalam mimpinya, ia sedang lahap menikmati kue labu yang lezat. Baru saja diangkat dari pemanggang roti. Masih panas, aromanya harum, rasanya manis.
“Daineee, bangun! Sekarang giliranmu mengantri.” Meggy mengguncang kuat bahu Daine.
Daine menggeliat malas. “Bukannya giliranku besok?”
“Hari ini!” Meggy kali ini menarik selimut Daine, “Kalau kau tak segera bangun. Kita akan kehabisan kue labu yang masih panas.”
Mendengar kue labu, Daine langsung bangun. Meski matanya setengah lengket, ia tetap berjalan ke arah lemari. Diambilnya mantel berbulu angsa berwarna kuning labu. Buru-buru ia kenakan, lalu berjalan sempoyongan ke luar rumah.
***
            Daine mengelap dahinya yang penuh keringat. Seberapa pagi ia berangkat, pasti berakhir dengan mengantri panjang.
            Ia bisa melihat Nyonya Kesti di antrian paling depan. Sibuk sekali menghitung koin kembalian. Paman Geo di belakangnya berulang kali batuk. Sangat tidak sabar untuk mendapat giliran.
            “Harga kue labu sekarang naik.”
            “Aneh sekali tidak diumumkan.”
            “Jadi mahal sekali. 5 perak untuk satu kue. Biasanya hanya 2 perak.”
            Bisik-bisik itu sampai di telinga Daine. Daine mengeluarkan kantongnya. Buru-buru ia menghitung koin. Hanya ada 8 perak. Daine menghela nafas. “Kenapa Meggy tidak memberi tahuku?”
            Tiba giliran Daine.
            “Ada yang bisa saya bantu?” Suara Nyonya Lesi.
 Daine mendongak. “Nyonya, beri aku 1 kue labu,” pintanya lemas.
“Tumben hari ini hanya 1 kue. Biasanya kamu memborong beberapa kue,” seloroh Nyonya Lesi.
“Bagaimana lagi, hanya ada 8 perak di kantongku.”
“Eh?” kata Nyonya Lesi. “Kamu bisa mendapatkan 4 kue kalau mau.”
Daine bingung. Bukannya tadi kata orang-orang?
“Bagaimana? Jadi beli 4 kue?” Nyonya Lesi bertanya.
Daine segera sadar, ia mengangguk cepat. Aneh sekali, pikirnya.
Sampai di rumah kayunya, Daine segera menceritakannya pada Meggy. Meggy menghela nafas.
“Kau tahu pegawai baru Nyonya Kinara? Yang rambutnya bergelombang, namanya Nyonya Ghea.”
Daine menggeleng.
“Di tangan Nyonya itu kue labu jadi naik 5 perak. Aku juga tidak mengerti. Beberapa orang hendak protes. Tapi mereka tidak enak pada Nyonya Ghea. Maksudku, bagaimana kalau Nyonya Ghea dipecat?”
“Biarkan saja. Kurasa Nyonya Kinara juga tidak tahu,” kata Daine.
Meggy keberatan. “Pasti ada cara lain. Supaya Nyonya Kinara melihatnya langsung.”
            Toko kue Nyonya Kinara dijaga banyak pegawai. Sekali-dua kali Nyonya Kinara datang berkunjung. Nyonya Kinara sangat sibuk. Toko kuenya tersebar di beberapa kota. Tidak mudah membuatnya berkunjung ke toko.
            “Aku punya ide,” pekik Daine. Ia bergegas mengambil kertas papyrus dan tinta. Meggy menatapnya penasaran.
***
            Meggy mengerjapkan mata tidak percaya. Nyonya Kinara datang berkat surat Daine. Daine menarik ujung Meggy. “Ayo ikut mengantri.”
            Meggy menurut. Meski masih bingung. Mereka berada di antrian paling belakang  
“1 kue labu 5 perak,” kata Nyonya Ghea.
Nyonya Kinara tercekat. “Aku tidak tahu bahwa kue di tokoku harganya naik,” ujarnya dengan suara tegas.
Nyonya Ghea memerhatikan wajah sang pembeli. Wajahnya tercekat begitu menyadari,  “Ah.. itu..”
***
            Nyonya Ghea terbata-bata bercerita. Ia terpaksa melakukannya. Ia butuh banyak koin untuk merawat suaminya yang sakit.
            Daine jadi tidak enak. Kedatangan Nyonya Kinara adalah idenya. Tapi bagaimanapun kecurangan tidak bisa dibiarkan.
            “Kau harusnya menceritakannya padaku. Aku bisa membantu pengobatan suamimu,” tawar Nyonya Kinara.
            Nyonya Ghea menitikkan air mata. “Anda terlalu baik pada saya, Nyonya. Maafkan saya, maafkan saya.”
            “Tidak perlu khawatir. Suamiku pemilik toko obat. Tapi perbuatanmu tetap harus mendapat hukuman. Upahmu akan kupotong setengah,” kata Nyonya Kinara bijak.
            Nyonya Ghea sama sekali tidak keberatan.
            Daine dan Meggy senang. Semua berakhir dengan baik. Nyonya Ghea tetap bekerja, dan toko kue Nyonya Kinara tidak dirugikan.
            Tapi ada hal lain yang membuat Daine dan Meggy senang. Mereka mendapatkan kue labu gratis selama 30 hari berturut-turut.
            Meggy berbisik. “Kamu bilang apa pada Nyonya Kinara?”
            “Aku bilang, toko Anda memiliki pelayanan terbagus di seluruh kota. Anda harus melihatnya sendiri.”
            Meggy geleng-geleng kepala. Kalau terkait kue labu, Daine tidak pernah kehabisan ide.