Minggu, 31 Juli 2016

Tips Menulis Tere Liye, Tentang Konsistensi.

Siapa yang tidak mengenal Tere Liye? Bukunya segambreng dengan kualitas best seller. Dari buku pertama sampai saat ini, masih bisa dijumpai di rak-rak Gramedia.

Aku bahkan otomatis memeriksa halaman setelah sampul setiap kali menemukan novel Tere Liye. Memeriksa edisi cetakan. Berakhir dengan nganga-nganga, ha.

Kemudian suatu hari, aku lupa persisnya kapan. Tere Liye pernah mengupdate status Fans Pagenya. Menjelaskan singkat tips menulis yang ampuh. Tidak mudah dilakukan secara konstan. Namun layak dipertimbangkan untuk siapapun yang ingin sekali menjadi penulis.

Menulis minimal 1000 kata per hari. Selama 180 hari berturut-turut.

Ha, bengong kan?! Seratus kata saja, kadang ditulis patah-patah. Dengan keringat dingin. Dengan ide yang masih belum jelas juntrungnya.

Saat itu, aku sedang ingin-inginnya menjadi penulis. Disertai dengan perasaan ketar-ketir. Aku menyanggupi dalam hati. Memulai tantangan yang diberikan. 

Minimal 1000 kata. Minimal 1000 kata. Minimal 1000 kata. 

Aku merapal dalam hati. Saat itu aku tidak memedulikan tema. Aku menulis apapun yang bisa ditulis. Aku menulis apa saja yang muncul di pikiran. Tanpa konsep dan tema.

Menulis saja. Sampai 1000 kata tercukupi.

Seminggu aku mencoba. Kemudian gagal, hahaha. 

Aku jenuh. Kehilangan ide. Ngos-ngosan. Apalah itu. Aku butuh pengikat bernama deadline yang membuatku mau tidak mau harus menulis 1000 kata per hari. Rupanya keinginanku saja tidak cukup. Atau memang keinginanku yang kurang kuat kala itu?

Alhasil, aku meminta bantuan teman. Aku meminjam emailnya untuk kurecoki satu tulisan setiap hari selama 180 hari berturut-turut. Batasnya sampai jam 12 malam teng. Jika aku berhasil menyelesaikan tantangan, aku ditraktir. Jika aku gagal, dia yang kutraktir.

Berhasil? Iya dong, hahaha.

Tapi jangan tanya bagaimana perjuanganku. Saat itu usiaku masih muda (eh, sekarang juga masih muda sih, wk). Moodku seperti gelembung sabun. Terkadang terbang menjangkau langit, terkadang terjun mendekati tanah. Naik-turun parah. Sedang banyak-banyaknya problematika anak muda. Namun aku tetap harus menulis. Apapun yang terjadi.

Jadilah tulisan asal-asalan. Tulisan lompat-lompat. Tulisan nano-nano. Tulisan tanpa arah. Namun tidak masalah. Aku tidak peduli. yang terpenting jangan pernah berhenti menulis. Terus menulis 1000 kata sampai rasa bosanku menyentuh ubun-ubun. Berulang kali.

Namun aku tetap harus menulis.

Meskipun hujan badai sampai koneksi internetku jelek. Meskipun mati lampu. Meskipun aku harus menulis di kereta. Meskipun aku harus menulis di bandara. Meskipun aku sedang senang-senangnya. Meskipun aku sedang sedih-sedihnya. Meskipun aku sedang malas-malasnya. Meskipun aku sedang sibuk-sibuknya.

Aku tetap menulis. Minimal 1000 kata per hari. 

Sampai, aku berhasil melewatinya. 180 tulisan penuh perjuangan itu selesai aku tulis. Namun jangan tanya apa isinya atau bagaimana kualitas tulisannya, ha.

Setelah aku menyelesaikan tantangan, aku segera meng-email Tere Liye dan memberi tahu beliau tentang keberhasilanku. Beliau menyambut baik. Sangat baik malah. Memberi motivasi. Memintaku mulai mempublikasikan 180 tulisan yang aku buat di blog. Namun tidak semuanya aku publish. Malu, ah, hahaha. Tulisanku jelek sekali kala itu. Isinya malu-maluin.

Tulisanku mungkin memang amburadul. Tidak terstruktur. Tidak bertema. Tidak ada harapan dimuat jika berniat kukirim ke media maupun penerbit. Namun ketahuilah, usahaku tidak sia-sia. Tidak sama sekali.

Tulisan-tulisan jelekku tersebut telah mengasah kemampuan menulisku. Tulisanku saat ini -yang agak mulai terstruktur, adalah hasil dari 180 tulisan jelekku. Aku merasakan transformasi besar-besaran dalam gaya kepenulisanku. Tampak lebih enak dibaca.

Proses ini tidak ubahnya seperti mendekati teori 10.000 jam untuk menjadi ahli. 

It is said that in order to achieve success in one field, 10.000 hour are required. The 10.000 hour rules. For Mozart and The Beatles, and Steve Jobs and Kim Yuna, it wasn't innate genius or good luck that created their success, but the effort and pain of more than 10.000 hours of work. It could be that work, relationships, and love are like that. 
In order to achieve the accomplishment, you can't wait for innate something to show up of luck. You have to work hard and try, and suffer til very end.
-Chilbong, Reply 1994

Bagaimana? Berani menerima tantangan? 1000 kata selama 180 hari berturut-turut? Hahaha. 

Jika prinsip Tere Liye seperti itu, maka tidak heran jika beliau mampu menelurkan 2 buku dalam setahun. Sesungguhnya bukan waktu dan kesibukan yang menjadi masalah. Namun kemauan dan niat. 

Seberapa niat kita ingin menjadi penulis. Seberapa niat aku ingin menjadi penulis.


Hosh.


p.s. Sesungguhnya tulisan ini adalah pelecut diri sendiri untuk (kembali) memulai proyek sangar itu, haha. 












Sabtu, 30 Juli 2016

Asyiknya Membaca.

Buatku, membaca selalu memberi 3 kesenangan sekaligus.

Pertama, kesenangan mendapatkan pengetahuan baru. Kedua, kenyataan bahwa ilmuku masih sangatlah dangkal. Banget. Banget. Banget. Ketiga, keseruan mendapatkan pemahaman baru, di dalam hati.


Kesenangan nomor dua, belakangan ini membuatku frustasi, ha. Rencana menulis novel terhambat karena ilmuku masih ceteeek banget. Kekurangan referensi. Selesai membaca satu buku, rasanya aku semakin bodoh. Berulang kali seperti itu. Membuatku respek sekali terhadap penulis yang berhasil menerbitkan buku bagus dan berkualitas secara muatannya. Menelurkan satu buku itu artinya harus siap menamatkan ratusan buku. Astaga, hahaha.

Kesenangan nomor tiga, ceritanya, aku baru 'ngeh' kalau pemikiranku kurang banyaknya dipengaharuhi oleh buku bacaanku dari SD. Salah satunya majalah Annida dan majalah Horison, ha. Sedih sekali kedua majalah tersebut memutuskan untuk menarik diri dari terbitan cetak. Namun saya angkat topi kepada ke dua majalah tersebut. Mereka konsisten memberikan sajian terbaik  kepada para pembaca. Annida dengan dakwahnya yang meremaja, Horison dengan sastranya yang asyik.

Atau, jika aku sedang membutuhkan nasehat tanpa merasa diceramahi, aku akan melarikan diri ke Gramedia, ke lapak-lapak buku bekas, ke semak-semak kardusku yang menyimpan harta karun buku-bukuku. Itu ampuh.

Saat aku patah hati, berusaha sembuh, berusaha beranjak maju, buku Flipped karangan Wendelin Van Draanen sangat membantu. Buku tersebut ditulis oleh seorang guru yang ingin memberikan nasehat terhadap murid-muridnya. Aku merasa menjadi salah satu murid beliau, huhu.

Asyik bukan? Membaca yuk, banyak-banyak, sampai kita merasa menyerap banyak pengetahuan, lalu kemudian merasa bodoh untuk yang keseribu kali.   



Kamis, 21 Juli 2016

Semua Sayang Cici (Terbit di Radar Bojonegoro)

Tidak akan ada habis-habisnya membahas kopi. 

Meskipun tidak semua orang bisa menyeruputnya dengan nikmat. Ada yang hanya menyukai aromanya, mengendusnya dari atas cangkir kopi milik orang lain.

Seperti Cici. Seperti aku sendiri.

Aku membayangkan hal lain. Interaksi antara cangkir kopi dengan gadis kecil pengendus aroma kopi. Meskipun secara tidak langsung dan mustahil. Namun mereka berinteraksi. 

Jadilah dongeng di bawah ini. 

Dan yang aku pelajari, dengan siapapun dan apapun kita berinteraksi, maka lambat laun emosi itu ada, ha. 

Semua Sayang Cici
Oleh : Ana Falesthein Tahta Alfina

Cangkir itu berwarna hijau tua. Mirip warna daun cemara. Warna kesukaan Ayah. Ayah sampai memberinya nama.
"Ciciii.. tolong ambilkan Jotu," perintah Ayah saat Cici sedang asyik membaca.
Cici menaikkan alis. "Jotu?"
"Itu.. cangkir favorit Ayah. Masak kamu nggak tahu?"
"Cangkir daun cemara?" Cici bertanya memastikan.
Ayah mengangguk. Sedang Cici hanya geleng-geleng kepalanya. Namanya aneh, Jotu, batin Cici.
"Ayah mau bikin kopi?" tanya Cici. Tangannya memegang cangkir itu hati-hati.
Ayah mengangguk.
"Asyikk!" Pekik Cici.
"Eits, ingat ya. Tidak boleh mencicipi Kopi," kata ayah tegas.
"Kan cuma menghirup aromanyaa, Yah," sahut Cici membela diri.
Dalam sehari Ayah bisa menghabiskan 2 cangkir kopi. Dan Cici selalu suka menghirup aroma kopi.
Cici akan mendekatkan hidungnya ke arah Jotu. Membuat Jotu cekikikan karena geli.
Oh iya, Jotu sudah menganggap Cici sebagai teman dekatnya.
"Kamu kapan dewasa, Ci? Supaya kamu bisa ikut meminum kopi bersama Ayah," celoteh Jotu. Tentu saja Cici tidak bisa dengar.
Ucapan Jotu hanya bisa didengar oleh Pak Toa Teko.
"Aku bosan mendengar kalimatmu barusan. Sehari kau bahkan bisa mengulanginya sampai sepuluh kali," keluh Pak Toa.
"Karena aku tahu Cici suka kopi. Setiap pagi ia selalu menghirup aroma kopi. Pasti menyenangkan sekali melihat Cici bisa minum kopi," cerita Jotu panjang lebar.
" Kau akan kelelahan sendiri menunggu Cici bisa minum kopi."
Jotu tidak terima. Cici tidak akan pernah membuatnya lelah menunggu. Jotu sudah siap-siap mengomeli Pak Toa. Tapi Ayah keburu mengangkatnya. Lalu membawa Jotu masuk ke dalam kamar.
Di sampingnya, Cici mengekor sambil memegang ujung kemeja Ayah.
***
"Ayaaahh. Ini sungguh buat Cici?" Cici memeluk botol kecil itu dengan sumringah.
"Kamu nggak mau?" goda Ayah.
Cici pura-pura cemberut. Lalu ia lari memeluk Ayah.
"Makasih ya, Yah. Cici senang. Ini kejutan. Ayah belikan Cici parfum aroma kopi," celoteh Cici panjang lebar.
Ayah mengacak-acak rambut Cici saying.
Cici tersenyum. Begitu juga dengan Jotu. Ia juga ikut tersenyum. Sedangkan Pak Toa? Ia tertidur sampai ngorok. Membuat Jotu ingin menutup telinganya.
***
"Ayah kenapa Cici nggak bisa minum kopi?" Tanyanya pada Ayah.
"Karena kopi tidak baik untuk tubuhmu. Kamu belum ingat peristiwa dulu?"
Pikiran Cici melayang. Setahun yang lalu, saat usia Cici masih 8 tahun, Cici nekat minum kopi 2 kali.
Pertama, Cici minum satu teguk. Lalu Cici selalu ingin pipis setelah itu. Kedua, Cici bandel minum 3 teguk. Lalu Cici tidak bisa tidur selama 2 hari.
Ingatan Jotu juga melayang. Ia juga ingat peristiwa itu.
"Mungkin karena dulu Cici masih kecil. Kalau Cici sudah dewasa, Cici akan baik-baik saja setelah minum kopi," pikir Jotu sederhana.
Sayangnya, dugaan Jotu salah. Keesokan harinya, Cici nekat minum kopi. Sampai 5 teguk. Saat itu Ayah belum pulang. Sedang kopi di tubuh Jotu masih sisa banyak.
Selang beberapa lama, Cici mengadu perutnya sakit. Ia terus memegangi perutnya sambil tiduran. Keringat membasahi wajah Cici.
Jotu panik. "Aku harus bagaimana Pak Toa? Cici kesakitan. Ayah belum pulang."
"Berdoa. Doa yang kencang. Hanya itu yang bisa kita lakukan," pesan Pak Toa tak kalah panik.
Untungnya Ayah cepat datang setelah Cici menelponnya. Ayah segera memanggil Pak Budi, dokter langganan keluarga Cici.
"Yah? Perut Cici masih sakit," keluh Cici.
Ayah mengusap lembut lengan Cici. "Lambungmu yang sakit. Kopi tidak pernah baik untuk kesehatanmu, Ci. Apalagi tadi kamu meminumnya sebelum makan."
Cici hampir menangis. Ia merasa bersalah.
"Tidak apa. Jangan diulangi lagi ya. Hanya kamu Ci yang paling berharga." Ayah menahan air matanya. Ia teringat Lili, mendiang isterinya, Ibu Cici. Bu Lili meninggal setahun yang lalu karena sakit.
"Pak Toa... " panggil Jotu.
Pak Toa menoleh.
"Sekarang, aku lebih suka Cici menghirup aroma kopi dari tubuhku. Aku tidak ingin Cici terluka karena kopi. Aku ingin melihat Cici tersenyum sepanjang waktu," ucap Jotu sambil berkaca-kaca.
Pak Toa tidak berkata apa-apa.
"Aku ingin menjadi teman yang baik untuk Cici," lanjut Jotu.
"Karena semua di rumah ini sayang Cici."
"Iya, kita semua sayang Cici."
Jotu dan Pak Toa saling berpandangan. Sedang Cici sedang terlelap sambil dijaga Ayah.
***






Rabu, 20 Juli 2016

Pisilia Gadis Pohon (Terbit di Radar Bojonegoro).


Janganlah terlalu memercayai pendengaranmu, penglihatanmu, bahkan prasangkamu sendiri. Di dunia ini ada banyak yang tidak bisa kau jangkau. Tidak dengan telinga, tidak dengan mata, juga tidak dengan pikiran.

Kalimat di atas bukan pepatah, tapi karanganku belaka, ha. Entah, cerita anak di bawah ini aku tulis agak asal-asalan. Asal terpikir, asal ditulis, asal dikirim. Enggak taunya dimuat. Sementara yang aku pikirkan konsepnya sedemikian rupa, masih berjuang keras di belantara meja redaksi, hahaha.

Seperti Merida, Noni, Tuan Geri, dan Nyonya Ara. Dugaan mereka meleset. Pun Cicilia, prasangkanya keliru. Seperti naskah ini sendiri, ha.

Enjoy..
Pisilia Gadis Pohon
Oleh: Ana Falesthein Tahta Alfina

Ada yang berbeda hari ini. Pisilia bangun bersama Matahari terbit. Ia bersenandung ceria sambil memilih baju. Matanya berbinar saat menikmati sepotong roti kismis. Bibirnya tersenyum ke setiap orang yang ia temui.
            Tuan Dael berhenti menyapu jalan, ia mengucek matanya. “Pisilia, benarkah itu kau? Aku pikir sedang melihat hantu.”
            Pisilia terkekeh. Ia membenarkan poninya yang ke mana-mana. “Kau benar Tuan Dael. Ini aku. Pisilia si gadis pohon.” Ia kembali melangkah dengan riang gembira.
            Di ujung toko serba ada, Nyoya Keita sampai menjatuhkan kain lapnya. “Pisilia kau salah makan? Hendak ke mana pagi-pagi begini? Dan kenapa rapi sekali? Aduhai..”
            “Aku mau ke rumah jamur Nyonya. Kegiatanku padat sekali hari ini.” Pisilia melambaikan tangan singkat.
            Tuan Gei, Nyonya Ara, Noni, Merida, dan semua kurcaci yang Pisilia temui menatapnya heran. Pisilia hanya tersenyum ke arah mereka.
            “Oh aku mau pergi ke rumah jamur.”
            “Benar, aku sekarang bekerja di sana.”
            “Tidak tidak. Aku sekarang bukan gadis pohon lagi.”
            Para kurcaci semakin heran saja menatapnya. Pisilia dengan sopan melampaikan tangan. “Aku berangkat dulu ya. Kalau butuh apa-apa, aku bisa ditemui di rumah jamur.”
***
            Siapa yang tidak mengenal Pisilia. Seorang gadis kurcaci yang malas sekali. Kerjaan sehari-harinya hanya duduk di atas pohon. Ia hanya akan turun ketika lapar dan haus. Tapi kadang-kadang, ia petik saja buah Pulm yang sudah matang. Orang-orang mengenal Pisilia sebagai tukang pengganggu. Ia menganggu kurcaci yang berangkat bekerja. Ia menganggu anak-anak burung di sarang mereka. Ia menganggu kurcaci kecil yang sedang bermain. Ia menganggu siapapun yang bisa diganggu.
            Tapi sebenarnya, Pisilia pandai sekali melukis. Saat seluruh orang sibuk bekerja, Pisilia melukis di atas pohon. Di dalam kantongnya yang berisi makanan, terselip kertas-kertas berisi lukisannya.
            Saat Pisilia tinggal di rumah Ibunya. Pisilia rajin sekali melukis. Lalu dari lukisannya ia mengarang cerita-cerita. Ibunya, Nyonya Lilisa, sangat mendukung kegiatan Pisilia. Membuat Pisilia semakin semangat.
            “Kelak, kau akan menjadi pengarang cerita terkenal. Cerita dengan lukisan-lukisan indah,” kata Ibunya.
            Semua berubah saat Pisilia memutuskan hidup sendiri. Ia pindah ke kota Fleyo. Jangankan lukisan, buku cerita saja jarang ditemui di sana.
***
            Merida menyikut lengan Noni. “Jangan berisik!”
            “Shuttt!” Tuan Geri dan Nyonya Ara melototi Noni. Mereka bersembunyi mengintip rumah jamur. Mereka penasaran dengan Pisilia.
            “Kau lihat tidak?” Nyonya Ara mencolek Tuan Geri.
            Tuan Geri berusaha memajukan badannya. “Pisilia hanya duduk-duduk.”
            “Sudah kubilang, ia pasti hanya pindah tempat melamun saja.” Nyonya Ara mencibir.
            “Sebentar,” kata Tuan Geri. “Tidak. Maksudku, Pisilia tidak diam saja. Tapi dia bercerita. Tangan kirinya memegang kertas. Tangan kanannya menunjuk-nunjuk.”
            “Mana? Mana? Aku tidak kelihatan.” Noni mendorong tubuh Merida. Merida melotot. Balas mendorongnya.
            Tuan Geri mendelik. “Kaliaa… “ kalimatnya terpotong begitu melihat Pisilia di depannya.
            “Kalian sedang apa di sini?” Pisilia memandangi mereka tajam.
***
            Pisilia duduk di hadapan Tuan Geri, Nyonya Ara, Merida, dan Noni.
            “Jadi kalian tidak mempercayaiku?”
            Ke empatnya menggeleng kompak.
            “Kami, anu, kami hanya ingin tahu pekerjaanmu.” Nyonya Ara menelan ludah.
            “Eh benar. Kami hanya ingin tahu,” sahut Tuan Geri.
            Noni menghela nafas. “Sebenarnya kami memang tidak mempercayaimu. Maksudku kenapa kau bisa berubah tiba-tiba?”
            Orang-orang menoleh ke arah Noni.
            “Aku mengatakan yang sebenarnya,” kata Noni membela diri.
            Pisilia menunduk. Ia akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tuan Geri takjub. Nyonya Ara nyaris tak berkedip. Merida dan Noni sampai mangap.
            “Aku butuh pembaca. Cerita lukisan yang aku buat tidak akan berharga tanpa pembaca. Aku sudah berkeliling ke seluruh sekolah. Tak ada satupun yang menerimaku sebagai guru. Hanya sekolah rumah jamur yang bersedia memperkerjakanku. Mereka akhirnya tertarik dengan cerita dan lukisanku.” Pesilia mengemukakan kondisinya.
            “Dan aku bukan gadis kurcaci pohon yang kalian kira. Di atas pohon aku mencari inspirasi lukisan dan cerita-ceritaku.”
            “Astagaa Pisilia,” pekik Merida setengah tidak percaya.
            “Kau harusnya mengatakannya pada kami. Kami pasti akan mendengarkan ceritamu.” Tuan Geri serius sekali mengatakannya.
            Nyonya Ara sepakat. “Kalau aku tahu sejak awal, aku pasti akan mendukungmu.”
            Pisilia tidak menyangka. Ia mengira orang-orang di sini tidak menyukai lukisannnya. Namun ternyata, dirinyalah yang tidak pernah meminta tolong.
            Sekarang Pisilia semakin sibuk saja. Pagi mengajar di rumah jamur. Sore membacakan cerita di halaman rumahnya, pendengarnya adalah para tetangga

Pisilia bahagia, penduduk kota Floya sangat mendukungnya. Dukungan-dukungan itu akan selalu menyemangati Pisilia. 

Rabu, 13 Juli 2016

Kukang Peliharaanku (Terbit di Majalah Ummi).

Cerita anak ini terlahir dari perbincanganku dengan adek kelas yang meneliti kukang untuk bahan skripsinya. Sebelumnya, kukang bagiku tidak ubahnya seperti hamster yang bebas dijual di pinggir jalan kota Bogor. 

Siapa yang menduga, kukang justru merupakan hewan yang dinyatakan nyaris punah. Sebagian besar karena perburuan berkedok hewan peliharaan. Hiks. 

Makhluk mungil itu.. 

yang terkadang bahkan tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, yang seringkali jalannya lambat sampai akhirnya tertimpa pohon atau tersengat kabel listrik, yang jam tidurnya justru di siang hari, yang suka sekali mengunyah buah.

Ah, ini tentang makhluk hidup, yang berhak juga untuk hidup. STOP MEMELIHARA KUKANG!

Kukang Peliharaanku
Oleh : Ana Falesthein Tahta Alfina

Panas Matahari sangat terik. Aku dan keluargaku baru keluar dari wisata kolam renang. Setelahnya mobil keluargaku melewati tempat ramai. Kata Ibu, ini pasar jalanan, atau jalanan pasar. Banyak barang yang bisa dibeli di sini.
Lalu aku melihatnya meringkuk. Aku segera menunjukknya tanpa ragu. “Ibu, lihat! Boleh aku memeliharanya?” Hewan bertubuh mungil itu lucu sekali. Kepalanya menunduk malu. Jari mungilnya memeluk besi kandangnya kuat-kuat.
Ibu menuruti permintaanku. Setelah berbicara sebentar dengan bapak penjual, hewan mungil itu kini menjadi milikku.
Aku menatapnya lekat-lekat. Dan astagaa, aku baru menyadarinya..
“Jadi ini bukan kucing?“ tanyaku takjub. Tadi kupikir ia seekor kucing.
“Lintang, itu namanya kukang,“ jawab Ayah menjelaskan.
“Kukang?” aku menowelnya pakai jari. Ia tetap meringkuk sambil memejamkan mata. Aku dibuatnya takjub. “ Kukang makannya apa? Sama nggak kayak kucing? Dia suka gigit nggak?“ Aku bertanya apa saja. Ibu menjawab semuanya, dengan sedikit bantuan Ayah.
Kukang itu kuberi nama Mimi. Kata Ibu, kata penjualnya, Mimi ini suka tidur dan makan. Makanan kesukaannya buah dan serangga. Tapi ia tidak suka cahaya.
Wah, aku sudah tidak sabar untuk pamer pada Tobi, teman sekelasku. Dua hari setelahnya, Tobi berkunjung melihat Mimi. Tapi Mimi sedang meringkuk pulas di ujung kandang.
“Kurasa ia kecapekan,“ kata Tobi.
“Ia selalu tidur setiap pagi. Padahal tidur pagi itu nggak baik. Aku harus membuatnya bangun,“ sahutku sambil terus menyolek tubuh Mimi. Sayangnya ia tetap meringkuk pulas.
“Kau beri dia makan apa?“
“Nasi,“ jawabku singkat.
Tobi menoleh. “Dia doyan nasi?“
Aku menggeleng. “Kata Ibu, beri makan aja seadanya. Ibu lupa membeli buah. Kata penjualnya sih, dia doyan makan buah dan serangga.“
Mulut Tobi membulat. Lalu dia kembali mengamati Mimi.
“Mimi seperti pakai kacamata ya? Bulu di dekat matanya berwarna lebih terang.“ Tobi siap-siap mengambil gambar. Aku hendak protes.
“Aku ingin memamerkan pada kakakku,” kata Tobi membela diri. Aku mengangguk memberi izin. Kak Fiona memang penyayang semua binatang.
Esoknya, saat pelajaran IPA, Tobi menanyaiku macam-macam. “Kau tahu apa itu kukang? Kau tahu, kalau kukang itu hewan yang dilindungi? Kata Kak Fiona.. “
“Ehem, seru sekali ceritanya ya Tobi,” kata Bu Rita memotong ucapan Tobi.
Aku menelan ludah. “Sudah kubilang nanti saja ngobrolnya,” kataku sebal.
“Tapi kukang yang kau peliha.. “
Aku meletakkan jari di bibirku sambil melotot. Aku tidak mau dihukum Bu Rita. Tobi akhirnya diam. Dan sepanjang pelajaran Ipa, aku memikirkan kata-kata Tobi.
Saat istirahat Tobi kembali mendesakku.
            “Tobi sudah kubilang aku nggak tahu. Aku asal membelinya di pinggir jalan. Aku nggak tahu kalau Kukang itu dilindungi,” ceritaku panjang lebar.
            “Kak Fiona kaget sekali saat melihat foto Mimi kemarin. Ia menyangka aku yang membelinya diam-diam.” Tobi menghela nafas.
            “Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku lesu. Hari ini begitu melelahkan. Aku mendapat tugas banyak dari mata pelajaran IPA. Lalu ditambah kenyataan, kalau Mimiku adalah hewan yang dilindungi.
            Tobi mengangkat bahu. “Nanti sore Kak Fiona akan menemuimu.”
            Wajahku pucat. “Anu.. apa aku akan dihukum?”
            “Tenang saja. Kau kan tidak tahu tentang kukang sebelumnya.” Tobi mencoba menghiburku. Meskipun, aku sama sekali tidak terhibur.
***
            Sorenya Kak Fiona benar-benar mendatangiku. Kak Fiona memberi penjelasan panjang lebar tentang kukang.
Kukang itu makhluk malam. Kalau pagi ia akan tidur. Kukang itu suka berjalan di atas ranting, bukan duduk di dalam kandang. Kukang bisa mati kalau makan nasi.
Wajahku semakin pucat. Aku sudah memaksa Mimi bermain di siang hari, dan juga memaksanya memakan nasi.
“Kak sungguh. Aku tidak tahu apa-apa sebelumnya. Aku tidak tahu Kukang sama sekali,” ucapku hampir menangis.
Kak Fiona mengangguk. “Kakak percaya.”
“Jadi apa yang harus kulakukan Kak?”
“Kakak harus membawa Kukangnya. Nanti Kukang ini akan dirawat dulu sebelum dikembalikan lagi ke dalam hutan.”
Aku kaget. “Tapi aku sayang Mimi. Apa aku tidak bisa merawatnya di sini? Aku janji akan merawatnya dengan baik kali ini,” bujukku memohon.
Kak Fiona menggeleng tegas. “Kukang itu binatang liar, Lintang. Bukan binatang peliharaan. Sebaik apapun kau akan merawatnya, ia bisa mati kalau tidak dilepas di alam bebas. Kukang tidak bisa berpisah dengan rumahnya.”
Aku menunduk. Air mataku hampir menetes. Ibu tidak tega melihatku. Ia lalu ikut membujuk Kak Fiona.
“Kalau kamu sayang sama Mimi, kamu harus bersedia melepas Mimi. Supaya Mimi bahagia. Lihatlah, Mimi tersiksa hidup di kandang,” kata Kak Fiona sambil menunjuk Mimi.
Aku menatap Mimi. Ia sedang meringkuk. Matanya redup, seperti berkaca-kaca. Aku menghela nafas panjang, Kak Fiona benar.
“Oh, baiklah,“ kataku akhirnya.
Kak Fiona tersenyum lega. Dan saat itu juga. Kak Fiona membawa Mimi pergi.
“Mimi.. bahagia ya di sana,“ bisikku sebelum Mimi pergi.