Rabu, 13 Juli 2016

Kukang Peliharaanku (Terbit di Majalah Ummi).

Cerita anak ini terlahir dari perbincanganku dengan adek kelas yang meneliti kukang untuk bahan skripsinya. Sebelumnya, kukang bagiku tidak ubahnya seperti hamster yang bebas dijual di pinggir jalan kota Bogor. 

Siapa yang menduga, kukang justru merupakan hewan yang dinyatakan nyaris punah. Sebagian besar karena perburuan berkedok hewan peliharaan. Hiks. 

Makhluk mungil itu.. 

yang terkadang bahkan tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, yang seringkali jalannya lambat sampai akhirnya tertimpa pohon atau tersengat kabel listrik, yang jam tidurnya justru di siang hari, yang suka sekali mengunyah buah.

Ah, ini tentang makhluk hidup, yang berhak juga untuk hidup. STOP MEMELIHARA KUKANG!

Kukang Peliharaanku
Oleh : Ana Falesthein Tahta Alfina

Panas Matahari sangat terik. Aku dan keluargaku baru keluar dari wisata kolam renang. Setelahnya mobil keluargaku melewati tempat ramai. Kata Ibu, ini pasar jalanan, atau jalanan pasar. Banyak barang yang bisa dibeli di sini.
Lalu aku melihatnya meringkuk. Aku segera menunjukknya tanpa ragu. “Ibu, lihat! Boleh aku memeliharanya?” Hewan bertubuh mungil itu lucu sekali. Kepalanya menunduk malu. Jari mungilnya memeluk besi kandangnya kuat-kuat.
Ibu menuruti permintaanku. Setelah berbicara sebentar dengan bapak penjual, hewan mungil itu kini menjadi milikku.
Aku menatapnya lekat-lekat. Dan astagaa, aku baru menyadarinya..
“Jadi ini bukan kucing?“ tanyaku takjub. Tadi kupikir ia seekor kucing.
“Lintang, itu namanya kukang,“ jawab Ayah menjelaskan.
“Kukang?” aku menowelnya pakai jari. Ia tetap meringkuk sambil memejamkan mata. Aku dibuatnya takjub. “ Kukang makannya apa? Sama nggak kayak kucing? Dia suka gigit nggak?“ Aku bertanya apa saja. Ibu menjawab semuanya, dengan sedikit bantuan Ayah.
Kukang itu kuberi nama Mimi. Kata Ibu, kata penjualnya, Mimi ini suka tidur dan makan. Makanan kesukaannya buah dan serangga. Tapi ia tidak suka cahaya.
Wah, aku sudah tidak sabar untuk pamer pada Tobi, teman sekelasku. Dua hari setelahnya, Tobi berkunjung melihat Mimi. Tapi Mimi sedang meringkuk pulas di ujung kandang.
“Kurasa ia kecapekan,“ kata Tobi.
“Ia selalu tidur setiap pagi. Padahal tidur pagi itu nggak baik. Aku harus membuatnya bangun,“ sahutku sambil terus menyolek tubuh Mimi. Sayangnya ia tetap meringkuk pulas.
“Kau beri dia makan apa?“
“Nasi,“ jawabku singkat.
Tobi menoleh. “Dia doyan nasi?“
Aku menggeleng. “Kata Ibu, beri makan aja seadanya. Ibu lupa membeli buah. Kata penjualnya sih, dia doyan makan buah dan serangga.“
Mulut Tobi membulat. Lalu dia kembali mengamati Mimi.
“Mimi seperti pakai kacamata ya? Bulu di dekat matanya berwarna lebih terang.“ Tobi siap-siap mengambil gambar. Aku hendak protes.
“Aku ingin memamerkan pada kakakku,” kata Tobi membela diri. Aku mengangguk memberi izin. Kak Fiona memang penyayang semua binatang.
Esoknya, saat pelajaran IPA, Tobi menanyaiku macam-macam. “Kau tahu apa itu kukang? Kau tahu, kalau kukang itu hewan yang dilindungi? Kata Kak Fiona.. “
“Ehem, seru sekali ceritanya ya Tobi,” kata Bu Rita memotong ucapan Tobi.
Aku menelan ludah. “Sudah kubilang nanti saja ngobrolnya,” kataku sebal.
“Tapi kukang yang kau peliha.. “
Aku meletakkan jari di bibirku sambil melotot. Aku tidak mau dihukum Bu Rita. Tobi akhirnya diam. Dan sepanjang pelajaran Ipa, aku memikirkan kata-kata Tobi.
Saat istirahat Tobi kembali mendesakku.
            “Tobi sudah kubilang aku nggak tahu. Aku asal membelinya di pinggir jalan. Aku nggak tahu kalau Kukang itu dilindungi,” ceritaku panjang lebar.
            “Kak Fiona kaget sekali saat melihat foto Mimi kemarin. Ia menyangka aku yang membelinya diam-diam.” Tobi menghela nafas.
            “Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku lesu. Hari ini begitu melelahkan. Aku mendapat tugas banyak dari mata pelajaran IPA. Lalu ditambah kenyataan, kalau Mimiku adalah hewan yang dilindungi.
            Tobi mengangkat bahu. “Nanti sore Kak Fiona akan menemuimu.”
            Wajahku pucat. “Anu.. apa aku akan dihukum?”
            “Tenang saja. Kau kan tidak tahu tentang kukang sebelumnya.” Tobi mencoba menghiburku. Meskipun, aku sama sekali tidak terhibur.
***
            Sorenya Kak Fiona benar-benar mendatangiku. Kak Fiona memberi penjelasan panjang lebar tentang kukang.
Kukang itu makhluk malam. Kalau pagi ia akan tidur. Kukang itu suka berjalan di atas ranting, bukan duduk di dalam kandang. Kukang bisa mati kalau makan nasi.
Wajahku semakin pucat. Aku sudah memaksa Mimi bermain di siang hari, dan juga memaksanya memakan nasi.
“Kak sungguh. Aku tidak tahu apa-apa sebelumnya. Aku tidak tahu Kukang sama sekali,” ucapku hampir menangis.
Kak Fiona mengangguk. “Kakak percaya.”
“Jadi apa yang harus kulakukan Kak?”
“Kakak harus membawa Kukangnya. Nanti Kukang ini akan dirawat dulu sebelum dikembalikan lagi ke dalam hutan.”
Aku kaget. “Tapi aku sayang Mimi. Apa aku tidak bisa merawatnya di sini? Aku janji akan merawatnya dengan baik kali ini,” bujukku memohon.
Kak Fiona menggeleng tegas. “Kukang itu binatang liar, Lintang. Bukan binatang peliharaan. Sebaik apapun kau akan merawatnya, ia bisa mati kalau tidak dilepas di alam bebas. Kukang tidak bisa berpisah dengan rumahnya.”
Aku menunduk. Air mataku hampir menetes. Ibu tidak tega melihatku. Ia lalu ikut membujuk Kak Fiona.
“Kalau kamu sayang sama Mimi, kamu harus bersedia melepas Mimi. Supaya Mimi bahagia. Lihatlah, Mimi tersiksa hidup di kandang,” kata Kak Fiona sambil menunjuk Mimi.
Aku menatap Mimi. Ia sedang meringkuk. Matanya redup, seperti berkaca-kaca. Aku menghela nafas panjang, Kak Fiona benar.
“Oh, baiklah,“ kataku akhirnya.
Kak Fiona tersenyum lega. Dan saat itu juga. Kak Fiona membawa Mimi pergi.
“Mimi.. bahagia ya di sana,“ bisikku sebelum Mimi pergi.






6 komentar:

  1. Selamat ya mbak muncul di majalah cerita kukangnya.. :)

    BalasHapus
  2. aaah aku suka kak ana mau peluk, ceritanya bagus. mau cerita banyak lagi nih biar dijadiin bahan inspirasi penulis ketje yg satu ini :* ({})

    BalasHapus
    Balasan
    1. peluuuukk beneran lah XD. Segudang ceritamu masih aku tunggu. Semoga sebentar lagi kita bisa ketemu ya.. :*

      Hapus
  3. Suka suka suka... sinau dari Ana ah.

    BalasHapus
  4. ((sinau)) terakhir aku dengar kata itu pas SMA, Ki.. haha

    BalasHapus