Rabu, 20 Juli 2016

Pisilia Gadis Pohon (Terbit di Radar Bojonegoro).


Janganlah terlalu memercayai pendengaranmu, penglihatanmu, bahkan prasangkamu sendiri. Di dunia ini ada banyak yang tidak bisa kau jangkau. Tidak dengan telinga, tidak dengan mata, juga tidak dengan pikiran.

Kalimat di atas bukan pepatah, tapi karanganku belaka, ha. Entah, cerita anak di bawah ini aku tulis agak asal-asalan. Asal terpikir, asal ditulis, asal dikirim. Enggak taunya dimuat. Sementara yang aku pikirkan konsepnya sedemikian rupa, masih berjuang keras di belantara meja redaksi, hahaha.

Seperti Merida, Noni, Tuan Geri, dan Nyonya Ara. Dugaan mereka meleset. Pun Cicilia, prasangkanya keliru. Seperti naskah ini sendiri, ha.

Enjoy..
Pisilia Gadis Pohon
Oleh: Ana Falesthein Tahta Alfina

Ada yang berbeda hari ini. Pisilia bangun bersama Matahari terbit. Ia bersenandung ceria sambil memilih baju. Matanya berbinar saat menikmati sepotong roti kismis. Bibirnya tersenyum ke setiap orang yang ia temui.
            Tuan Dael berhenti menyapu jalan, ia mengucek matanya. “Pisilia, benarkah itu kau? Aku pikir sedang melihat hantu.”
            Pisilia terkekeh. Ia membenarkan poninya yang ke mana-mana. “Kau benar Tuan Dael. Ini aku. Pisilia si gadis pohon.” Ia kembali melangkah dengan riang gembira.
            Di ujung toko serba ada, Nyoya Keita sampai menjatuhkan kain lapnya. “Pisilia kau salah makan? Hendak ke mana pagi-pagi begini? Dan kenapa rapi sekali? Aduhai..”
            “Aku mau ke rumah jamur Nyonya. Kegiatanku padat sekali hari ini.” Pisilia melambaikan tangan singkat.
            Tuan Gei, Nyonya Ara, Noni, Merida, dan semua kurcaci yang Pisilia temui menatapnya heran. Pisilia hanya tersenyum ke arah mereka.
            “Oh aku mau pergi ke rumah jamur.”
            “Benar, aku sekarang bekerja di sana.”
            “Tidak tidak. Aku sekarang bukan gadis pohon lagi.”
            Para kurcaci semakin heran saja menatapnya. Pisilia dengan sopan melampaikan tangan. “Aku berangkat dulu ya. Kalau butuh apa-apa, aku bisa ditemui di rumah jamur.”
***
            Siapa yang tidak mengenal Pisilia. Seorang gadis kurcaci yang malas sekali. Kerjaan sehari-harinya hanya duduk di atas pohon. Ia hanya akan turun ketika lapar dan haus. Tapi kadang-kadang, ia petik saja buah Pulm yang sudah matang. Orang-orang mengenal Pisilia sebagai tukang pengganggu. Ia menganggu kurcaci yang berangkat bekerja. Ia menganggu anak-anak burung di sarang mereka. Ia menganggu kurcaci kecil yang sedang bermain. Ia menganggu siapapun yang bisa diganggu.
            Tapi sebenarnya, Pisilia pandai sekali melukis. Saat seluruh orang sibuk bekerja, Pisilia melukis di atas pohon. Di dalam kantongnya yang berisi makanan, terselip kertas-kertas berisi lukisannya.
            Saat Pisilia tinggal di rumah Ibunya. Pisilia rajin sekali melukis. Lalu dari lukisannya ia mengarang cerita-cerita. Ibunya, Nyonya Lilisa, sangat mendukung kegiatan Pisilia. Membuat Pisilia semakin semangat.
            “Kelak, kau akan menjadi pengarang cerita terkenal. Cerita dengan lukisan-lukisan indah,” kata Ibunya.
            Semua berubah saat Pisilia memutuskan hidup sendiri. Ia pindah ke kota Fleyo. Jangankan lukisan, buku cerita saja jarang ditemui di sana.
***
            Merida menyikut lengan Noni. “Jangan berisik!”
            “Shuttt!” Tuan Geri dan Nyonya Ara melototi Noni. Mereka bersembunyi mengintip rumah jamur. Mereka penasaran dengan Pisilia.
            “Kau lihat tidak?” Nyonya Ara mencolek Tuan Geri.
            Tuan Geri berusaha memajukan badannya. “Pisilia hanya duduk-duduk.”
            “Sudah kubilang, ia pasti hanya pindah tempat melamun saja.” Nyonya Ara mencibir.
            “Sebentar,” kata Tuan Geri. “Tidak. Maksudku, Pisilia tidak diam saja. Tapi dia bercerita. Tangan kirinya memegang kertas. Tangan kanannya menunjuk-nunjuk.”
            “Mana? Mana? Aku tidak kelihatan.” Noni mendorong tubuh Merida. Merida melotot. Balas mendorongnya.
            Tuan Geri mendelik. “Kaliaa… “ kalimatnya terpotong begitu melihat Pisilia di depannya.
            “Kalian sedang apa di sini?” Pisilia memandangi mereka tajam.
***
            Pisilia duduk di hadapan Tuan Geri, Nyonya Ara, Merida, dan Noni.
            “Jadi kalian tidak mempercayaiku?”
            Ke empatnya menggeleng kompak.
            “Kami, anu, kami hanya ingin tahu pekerjaanmu.” Nyonya Ara menelan ludah.
            “Eh benar. Kami hanya ingin tahu,” sahut Tuan Geri.
            Noni menghela nafas. “Sebenarnya kami memang tidak mempercayaimu. Maksudku kenapa kau bisa berubah tiba-tiba?”
            Orang-orang menoleh ke arah Noni.
            “Aku mengatakan yang sebenarnya,” kata Noni membela diri.
            Pisilia menunduk. Ia akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tuan Geri takjub. Nyonya Ara nyaris tak berkedip. Merida dan Noni sampai mangap.
            “Aku butuh pembaca. Cerita lukisan yang aku buat tidak akan berharga tanpa pembaca. Aku sudah berkeliling ke seluruh sekolah. Tak ada satupun yang menerimaku sebagai guru. Hanya sekolah rumah jamur yang bersedia memperkerjakanku. Mereka akhirnya tertarik dengan cerita dan lukisanku.” Pesilia mengemukakan kondisinya.
            “Dan aku bukan gadis kurcaci pohon yang kalian kira. Di atas pohon aku mencari inspirasi lukisan dan cerita-ceritaku.”
            “Astagaa Pisilia,” pekik Merida setengah tidak percaya.
            “Kau harusnya mengatakannya pada kami. Kami pasti akan mendengarkan ceritamu.” Tuan Geri serius sekali mengatakannya.
            Nyonya Ara sepakat. “Kalau aku tahu sejak awal, aku pasti akan mendukungmu.”
            Pisilia tidak menyangka. Ia mengira orang-orang di sini tidak menyukai lukisannnya. Namun ternyata, dirinyalah yang tidak pernah meminta tolong.
            Sekarang Pisilia semakin sibuk saja. Pagi mengajar di rumah jamur. Sore membacakan cerita di halaman rumahnya, pendengarnya adalah para tetangga

Pisilia bahagia, penduduk kota Floya sangat mendukungnya. Dukungan-dukungan itu akan selalu menyemangati Pisilia. 

4 komentar:

  1. Aku fans berat Pisilia deh! Kereeeen!

    BalasHapus
  2. yeay, Pisilia punya fans.. nanti kubilangin sama orangnya.. :D

    BalasHapus
  3. Lucu ya, rumah jamur, kurcaci, asik lah

    BalasHapus
  4. Lucu ya, rumah jamur, kurcaci, asik lah

    BalasHapus