Kamis, 21 Juli 2016

Semua Sayang Cici (Terbit di Radar Bojonegoro)

Tidak akan ada habis-habisnya membahas kopi. 

Meskipun tidak semua orang bisa menyeruputnya dengan nikmat. Ada yang hanya menyukai aromanya, mengendusnya dari atas cangkir kopi milik orang lain.

Seperti Cici. Seperti aku sendiri.

Aku membayangkan hal lain. Interaksi antara cangkir kopi dengan gadis kecil pengendus aroma kopi. Meskipun secara tidak langsung dan mustahil. Namun mereka berinteraksi. 

Jadilah dongeng di bawah ini. 

Dan yang aku pelajari, dengan siapapun dan apapun kita berinteraksi, maka lambat laun emosi itu ada, ha. 

Semua Sayang Cici
Oleh : Ana Falesthein Tahta Alfina

Cangkir itu berwarna hijau tua. Mirip warna daun cemara. Warna kesukaan Ayah. Ayah sampai memberinya nama.
"Ciciii.. tolong ambilkan Jotu," perintah Ayah saat Cici sedang asyik membaca.
Cici menaikkan alis. "Jotu?"
"Itu.. cangkir favorit Ayah. Masak kamu nggak tahu?"
"Cangkir daun cemara?" Cici bertanya memastikan.
Ayah mengangguk. Sedang Cici hanya geleng-geleng kepalanya. Namanya aneh, Jotu, batin Cici.
"Ayah mau bikin kopi?" tanya Cici. Tangannya memegang cangkir itu hati-hati.
Ayah mengangguk.
"Asyikk!" Pekik Cici.
"Eits, ingat ya. Tidak boleh mencicipi Kopi," kata ayah tegas.
"Kan cuma menghirup aromanyaa, Yah," sahut Cici membela diri.
Dalam sehari Ayah bisa menghabiskan 2 cangkir kopi. Dan Cici selalu suka menghirup aroma kopi.
Cici akan mendekatkan hidungnya ke arah Jotu. Membuat Jotu cekikikan karena geli.
Oh iya, Jotu sudah menganggap Cici sebagai teman dekatnya.
"Kamu kapan dewasa, Ci? Supaya kamu bisa ikut meminum kopi bersama Ayah," celoteh Jotu. Tentu saja Cici tidak bisa dengar.
Ucapan Jotu hanya bisa didengar oleh Pak Toa Teko.
"Aku bosan mendengar kalimatmu barusan. Sehari kau bahkan bisa mengulanginya sampai sepuluh kali," keluh Pak Toa.
"Karena aku tahu Cici suka kopi. Setiap pagi ia selalu menghirup aroma kopi. Pasti menyenangkan sekali melihat Cici bisa minum kopi," cerita Jotu panjang lebar.
" Kau akan kelelahan sendiri menunggu Cici bisa minum kopi."
Jotu tidak terima. Cici tidak akan pernah membuatnya lelah menunggu. Jotu sudah siap-siap mengomeli Pak Toa. Tapi Ayah keburu mengangkatnya. Lalu membawa Jotu masuk ke dalam kamar.
Di sampingnya, Cici mengekor sambil memegang ujung kemeja Ayah.
***
"Ayaaahh. Ini sungguh buat Cici?" Cici memeluk botol kecil itu dengan sumringah.
"Kamu nggak mau?" goda Ayah.
Cici pura-pura cemberut. Lalu ia lari memeluk Ayah.
"Makasih ya, Yah. Cici senang. Ini kejutan. Ayah belikan Cici parfum aroma kopi," celoteh Cici panjang lebar.
Ayah mengacak-acak rambut Cici saying.
Cici tersenyum. Begitu juga dengan Jotu. Ia juga ikut tersenyum. Sedangkan Pak Toa? Ia tertidur sampai ngorok. Membuat Jotu ingin menutup telinganya.
***
"Ayah kenapa Cici nggak bisa minum kopi?" Tanyanya pada Ayah.
"Karena kopi tidak baik untuk tubuhmu. Kamu belum ingat peristiwa dulu?"
Pikiran Cici melayang. Setahun yang lalu, saat usia Cici masih 8 tahun, Cici nekat minum kopi 2 kali.
Pertama, Cici minum satu teguk. Lalu Cici selalu ingin pipis setelah itu. Kedua, Cici bandel minum 3 teguk. Lalu Cici tidak bisa tidur selama 2 hari.
Ingatan Jotu juga melayang. Ia juga ingat peristiwa itu.
"Mungkin karena dulu Cici masih kecil. Kalau Cici sudah dewasa, Cici akan baik-baik saja setelah minum kopi," pikir Jotu sederhana.
Sayangnya, dugaan Jotu salah. Keesokan harinya, Cici nekat minum kopi. Sampai 5 teguk. Saat itu Ayah belum pulang. Sedang kopi di tubuh Jotu masih sisa banyak.
Selang beberapa lama, Cici mengadu perutnya sakit. Ia terus memegangi perutnya sambil tiduran. Keringat membasahi wajah Cici.
Jotu panik. "Aku harus bagaimana Pak Toa? Cici kesakitan. Ayah belum pulang."
"Berdoa. Doa yang kencang. Hanya itu yang bisa kita lakukan," pesan Pak Toa tak kalah panik.
Untungnya Ayah cepat datang setelah Cici menelponnya. Ayah segera memanggil Pak Budi, dokter langganan keluarga Cici.
"Yah? Perut Cici masih sakit," keluh Cici.
Ayah mengusap lembut lengan Cici. "Lambungmu yang sakit. Kopi tidak pernah baik untuk kesehatanmu, Ci. Apalagi tadi kamu meminumnya sebelum makan."
Cici hampir menangis. Ia merasa bersalah.
"Tidak apa. Jangan diulangi lagi ya. Hanya kamu Ci yang paling berharga." Ayah menahan air matanya. Ia teringat Lili, mendiang isterinya, Ibu Cici. Bu Lili meninggal setahun yang lalu karena sakit.
"Pak Toa... " panggil Jotu.
Pak Toa menoleh.
"Sekarang, aku lebih suka Cici menghirup aroma kopi dari tubuhku. Aku tidak ingin Cici terluka karena kopi. Aku ingin melihat Cici tersenyum sepanjang waktu," ucap Jotu sambil berkaca-kaca.
Pak Toa tidak berkata apa-apa.
"Aku ingin menjadi teman yang baik untuk Cici," lanjut Jotu.
"Karena semua di rumah ini sayang Cici."
"Iya, kita semua sayang Cici."
Jotu dan Pak Toa saling berpandangan. Sedang Cici sedang terlelap sambil dijaga Ayah.
***






3 komentar:

  1. Kereeeen. Aku menikmati banget ceritanya. Pesan yang pas buat anak-anak yang suka penasaran sama kopi.

    BalasHapus
  2. Hmm..ijinkan aku menikmati saja tanpa komentar

    BalasHapus