Minggu, 31 Juli 2016

Tips Menulis Tere Liye, Tentang Konsistensi.

Siapa yang tidak mengenal Tere Liye? Bukunya segambreng dengan kualitas best seller. Dari buku pertama sampai saat ini, masih bisa dijumpai di rak-rak Gramedia.

Aku bahkan otomatis memeriksa halaman setelah sampul setiap kali menemukan novel Tere Liye. Memeriksa edisi cetakan. Berakhir dengan nganga-nganga, ha.

Kemudian suatu hari, aku lupa persisnya kapan. Tere Liye pernah mengupdate status Fans Pagenya. Menjelaskan singkat tips menulis yang ampuh. Tidak mudah dilakukan secara konstan. Namun layak dipertimbangkan untuk siapapun yang ingin sekali menjadi penulis.

Menulis minimal 1000 kata per hari. Selama 180 hari berturut-turut.

Ha, bengong kan?! Seratus kata saja, kadang ditulis patah-patah. Dengan keringat dingin. Dengan ide yang masih belum jelas juntrungnya.

Saat itu, aku sedang ingin-inginnya menjadi penulis. Disertai dengan perasaan ketar-ketir. Aku menyanggupi dalam hati. Memulai tantangan yang diberikan. 

Minimal 1000 kata. Minimal 1000 kata. Minimal 1000 kata. 

Aku merapal dalam hati. Saat itu aku tidak memedulikan tema. Aku menulis apapun yang bisa ditulis. Aku menulis apa saja yang muncul di pikiran. Tanpa konsep dan tema.

Menulis saja. Sampai 1000 kata tercukupi.

Seminggu aku mencoba. Kemudian gagal, hahaha. 

Aku jenuh. Kehilangan ide. Ngos-ngosan. Apalah itu. Aku butuh pengikat bernama deadline yang membuatku mau tidak mau harus menulis 1000 kata per hari. Rupanya keinginanku saja tidak cukup. Atau memang keinginanku yang kurang kuat kala itu?

Alhasil, aku meminta bantuan teman. Aku meminjam emailnya untuk kurecoki satu tulisan setiap hari selama 180 hari berturut-turut. Batasnya sampai jam 12 malam teng. Jika aku berhasil menyelesaikan tantangan, aku ditraktir. Jika aku gagal, dia yang kutraktir.

Berhasil? Iya dong, hahaha.

Tapi jangan tanya bagaimana perjuanganku. Saat itu usiaku masih muda (eh, sekarang juga masih muda sih, wk). Moodku seperti gelembung sabun. Terkadang terbang menjangkau langit, terkadang terjun mendekati tanah. Naik-turun parah. Sedang banyak-banyaknya problematika anak muda. Namun aku tetap harus menulis. Apapun yang terjadi.

Jadilah tulisan asal-asalan. Tulisan lompat-lompat. Tulisan nano-nano. Tulisan tanpa arah. Namun tidak masalah. Aku tidak peduli. yang terpenting jangan pernah berhenti menulis. Terus menulis 1000 kata sampai rasa bosanku menyentuh ubun-ubun. Berulang kali.

Namun aku tetap harus menulis.

Meskipun hujan badai sampai koneksi internetku jelek. Meskipun mati lampu. Meskipun aku harus menulis di kereta. Meskipun aku harus menulis di bandara. Meskipun aku sedang senang-senangnya. Meskipun aku sedang sedih-sedihnya. Meskipun aku sedang malas-malasnya. Meskipun aku sedang sibuk-sibuknya.

Aku tetap menulis. Minimal 1000 kata per hari. 

Sampai, aku berhasil melewatinya. 180 tulisan penuh perjuangan itu selesai aku tulis. Namun jangan tanya apa isinya atau bagaimana kualitas tulisannya, ha.

Setelah aku menyelesaikan tantangan, aku segera meng-email Tere Liye dan memberi tahu beliau tentang keberhasilanku. Beliau menyambut baik. Sangat baik malah. Memberi motivasi. Memintaku mulai mempublikasikan 180 tulisan yang aku buat di blog. Namun tidak semuanya aku publish. Malu, ah, hahaha. Tulisanku jelek sekali kala itu. Isinya malu-maluin.

Tulisanku mungkin memang amburadul. Tidak terstruktur. Tidak bertema. Tidak ada harapan dimuat jika berniat kukirim ke media maupun penerbit. Namun ketahuilah, usahaku tidak sia-sia. Tidak sama sekali.

Tulisan-tulisan jelekku tersebut telah mengasah kemampuan menulisku. Tulisanku saat ini -yang agak mulai terstruktur, adalah hasil dari 180 tulisan jelekku. Aku merasakan transformasi besar-besaran dalam gaya kepenulisanku. Tampak lebih enak dibaca.

Proses ini tidak ubahnya seperti mendekati teori 10.000 jam untuk menjadi ahli. 

It is said that in order to achieve success in one field, 10.000 hour are required. The 10.000 hour rules. For Mozart and The Beatles, and Steve Jobs and Kim Yuna, it wasn't innate genius or good luck that created their success, but the effort and pain of more than 10.000 hours of work. It could be that work, relationships, and love are like that. 
In order to achieve the accomplishment, you can't wait for innate something to show up of luck. You have to work hard and try, and suffer til very end.
-Chilbong, Reply 1994

Bagaimana? Berani menerima tantangan? 1000 kata selama 180 hari berturut-turut? Hahaha. 

Jika prinsip Tere Liye seperti itu, maka tidak heran jika beliau mampu menelurkan 2 buku dalam setahun. Sesungguhnya bukan waktu dan kesibukan yang menjadi masalah. Namun kemauan dan niat. 

Seberapa niat kita ingin menjadi penulis. Seberapa niat aku ingin menjadi penulis.


Hosh.


p.s. Sesungguhnya tulisan ini adalah pelecut diri sendiri untuk (kembali) memulai proyek sangar itu, haha. 












4 komentar:

  1. waduh, saya kalah telak ni,,, heheh :D mau coba juga deh Bismillah

    BalasHapus
  2. Belum telat untuk memulai kok.hehe hayoo semangat semangat..

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Aku juga mau nyoba lagi, Ki. Sensasinya itu, loh. Berhasil nulis sekian kata di tengah kondisi apapun. Deg deg ser, haha

      Hapus