Rabu, 10 Agustus 2016

[Review Suka-suka] Dongeng Seru dan Fakta Unik Binatang.

Buku ini, datang di siang bolong. Semakin menguatkan dugaan teman-teman kantor. Saya ga bisa diajak ngerumpi soal tas bagus atau sepatu murah, ha. Ana itu kerjaannya ngeborong buku. Adaaaa aja pengantar ekspedisi yang kucluk-kucluk nyariin mb Ana buat nganterin paket solid berbentuk persegi, hahaha. 

Saya pasrah, digodain, lantas nyengir (sok) manis. #opo

Errr fokus, An. :p

Baik, begini, kolaborasi mb Shabrina dengan hewan itu tidak pernah biasa. Selalu menghasilkan adegan combo \m/. 

Tak, tak, tak, ada yang menari lincah di kepala. Adegan-adegannya, potongan-potongan nasihat yang ingin disampaikan. Padu padannya seperti melahap semangkuk mie ayam dengan segelas es jeruk nipis. Bikin kukuruyuk perut saat ini.

Seluruhnya memuat 14 cerita, dengan beranegka ragam hewan. Entah hewan yang mudah dijumpai di sekeliling kita, atau hewan-hewan yang nyaris punah. Pesan di dalam buku sudah seperti suggesti. Semacam mantra yang diam-diam mengajak pembaca cilik untuk mencintai meraka. Hewan pun juga makhluk hidup. Punya hak yang sama untuk bahagia di lingkungannya. 

Dek, hewan-hewan itu baik. Asal rumahnya tidak diganggu. Asal kitanya tidak mengganggu. Sama seperti manusia, yang langsung meradang ketika dicolek-colek tidak sopan. 

Dek, hewan-hewan itu unik. Semakin dikulik, semakin kita akan dibuatnya takjub. Semakin tahu, semakin kita dibuatnya jatuh cinta. Semakin mengenal, semakin kita dibuatnya bersyukur. Terdapat ruang ilmu yang menjelaskan fakta unik hewan. Seru, deh.

Dek, hewan itu juga memiliki problematika hidup. Sama seperti kita-kita. Misalnya, kamu menginginkan tas baru. Seharian sudah membujuk Bapak, jawabannya nanti. Gantian merayu Ibu, hanya mendapat towelan di pipi, tas yang lama masih bisa dipakai, katanya. Tidak putus asa, kamu memutuskan menabung. Bang bing bung kamu menyisihkan uang saku. Sampai sebulan, uangnya cukup, eh rupa-rupanya Bapak dan Ibu sudah menyiapkan kejutan tas baru. Kamu bengong, dan sudah tahu rasanya menabung. Double menyenangkan.

Hewan-hewan di buku juga sama. Kita akan berkenalan dengan orang utan, bekantan, katak, kelinci, kuda nil, komodo, kucing, gajah, tikus, beruang, burung hantu, kupu-kupu, aaaah rame. Mereka punya masalah sendiri-sendiri. Dan bisa menyelesaikan masalahnya dengan cara yang baik.

Ana di bangku terdepan mengerjap menghayati.

Saya pribadi sukaaaa syekali dengan cerita Ran, si tikus pengerat yang banyak gaya :p. Lalu Bu Kelinci yang dramatis dengan sapu patahnya. Lalu lalu, Macaca yang memiliki cita-cita dan berusaha mewujudkannya. 

Jangan tergesa membeli barang yang sama, jika barang-barang yang lama masih bisa dipakai. -Bu Kelinci dan Sapu Patah-

Saya paling merasa tersindir di bagian ini, hahaha.

Kesimpulannya, buku dongeng ini cocooook untuk segala kalangan dan segala usia. Siapapun bisa menikmati. Hei, orang dewasa pun butuh dongeng untuk tetap waras menjalani hidup :p kembali menjadi anak-anak, yang masih doyan ingin tahu ini-itu, dan menganggap semua masalah adalah tantangan. Jangan gampang baper, ah.. :p 




P.S. Membeli buku ini di bulan Agustus, langsung ke penulisnya (mbak Shabrina WS), bisa dibebaskan ongkir ke seluruh Indonesia rayaaa. Kece ya mbak pendongeng satu ini, hoho.


Mengutip tulisan di belakang buku, 

Selamat membaca dan tetap semangat untuk terus belajar. \m/



















Kue Labu Nyonya Kinara (Terbit di Solopos)

errr.. ini dari kisah nyata. 

err.. settingnya di warung depan kostan yang pertama. objeknya, ikan kembung sambel balado yang rasanya bikin ileran. enaknya dibeli saat santai. makannya harus lahap sampai hanya tersisa tulang belulang.

kemudian, suatu pagi, saya dikagetkan. harga ikan kembung sambel balado itu berubah. kalau harganya normal malah bisa dapat 2 porsi, ugh. saya mencari tahu kenapa harganya mendadak melesat. dan tahu-tahu, ini hanya terjadi ketika si ibu itu yang melayani. tatkala saya berpapasan dengan ibu yang satunya, harganya jatuh normal. 

err.. saya kecewa. tapi saat itu tidak berbuat apa-apa. hanya berharap supaya tidak dilayani dengan ibu itu. 

err.. untuk melampiaskan kekecewaan, lahirlah dongeng ini. 

hal ajaib yang terjadi ialah, dongeng ini ditulis nyaris tanpa revisi, tanpa pengendapan yang lama. mulus lincah seperti jalan angkot Bogor di pukul satu pagi, atau seperti jalan rel commuter line di pukul lima pagi arah Bogor.

hal ajaib lainnya, dongeng ini berhasil meruntuhkan kekecewaan saya terhadap ibu itu. siapa tahu beliau tidak tahu, atau tidak sengaja, atau memiliki alasan valid yang tidak bisa seenaknya saya tuduh-tuduh.

begitulah, kadang dongeng-dongeng ini membawa keajaiban, pada saya, penulisnya sendiri.

enjoy!

Kue Labu Nyonya Kinara
Oleh: Ana Falesthein Tahta Alfina

Sejak pagi hari, kota Peddora telah ramai. Tuan Kumis Melintang menyapu daun yang berguguran. Tuan Topi Merah mengantarkan selebaran pengumuman. Beberapa anak muda memainkan alat musik. Sisanya melangkah bekerja. Ke arah barat menuju ladang dan kebun. Ke arah timur menuju pertokoan aneka rupa.
 Termasuk toko kue milik Nyonya Kinara, telah bersiap sejak matahari terbit. Aromanya tercium ke segala penjuru. Menyelinap memasuki pintu-pintu rumah. Menyusup naik melewati calah-celah. Memanjat melewati tangga. Menggelitik hidung Daine yang sedang terlelap.
“Kue labu. Rasanya enaak. Nyam nyam.” Daine mengigau. Di dalam mimpinya, ia sedang lahap menikmati kue labu yang lezat. Baru saja diangkat dari pemanggang roti. Masih panas, aromanya harum, rasanya manis.
“Daineee, bangun! Sekarang giliranmu mengantri.” Meggy mengguncang kuat bahu Daine.
Daine menggeliat malas. “Bukannya giliranku besok?”
“Hari ini!” Meggy kali ini menarik selimut Daine, “Kalau kau tak segera bangun. Kita akan kehabisan kue labu yang masih panas.”
Mendengar kue labu, Daine langsung bangun. Meski matanya setengah lengket, ia tetap berjalan ke arah lemari. Diambilnya mantel berbulu angsa berwarna kuning labu. Buru-buru ia kenakan, lalu berjalan sempoyongan ke luar rumah.
***
            Daine mengelap dahinya yang penuh keringat. Seberapa pagi ia berangkat, pasti berakhir dengan mengantri panjang.
            Ia bisa melihat Nyonya Kesti di antrian paling depan. Sibuk sekali menghitung koin kembalian. Paman Geo di belakangnya berulang kali batuk. Sangat tidak sabar untuk mendapat giliran.
            “Harga kue labu sekarang naik.”
            “Aneh sekali tidak diumumkan.”
            “Jadi mahal sekali. 5 perak untuk satu kue. Biasanya hanya 2 perak.”
            Bisik-bisik itu sampai di telinga Daine. Daine mengeluarkan kantongnya. Buru-buru ia menghitung koin. Hanya ada 8 perak. Daine menghela nafas. “Kenapa Meggy tidak memberi tahuku?”
            Tiba giliran Daine.
            “Ada yang bisa saya bantu?” Suara Nyonya Lesi.
 Daine mendongak. “Nyonya, beri aku 1 kue labu,” pintanya lemas.
“Tumben hari ini hanya 1 kue. Biasanya kamu memborong beberapa kue,” seloroh Nyonya Lesi.
“Bagaimana lagi, hanya ada 8 perak di kantongku.”
“Eh?” kata Nyonya Lesi. “Kamu bisa mendapatkan 4 kue kalau mau.”
Daine bingung. Bukannya tadi kata orang-orang?
“Bagaimana? Jadi beli 4 kue?” Nyonya Lesi bertanya.
Daine segera sadar, ia mengangguk cepat. Aneh sekali, pikirnya.
Sampai di rumah kayunya, Daine segera menceritakannya pada Meggy. Meggy menghela nafas.
“Kau tahu pegawai baru Nyonya Kinara? Yang rambutnya bergelombang, namanya Nyonya Ghea.”
Daine menggeleng.
“Di tangan Nyonya itu kue labu jadi naik 5 perak. Aku juga tidak mengerti. Beberapa orang hendak protes. Tapi mereka tidak enak pada Nyonya Ghea. Maksudku, bagaimana kalau Nyonya Ghea dipecat?”
“Biarkan saja. Kurasa Nyonya Kinara juga tidak tahu,” kata Daine.
Meggy keberatan. “Pasti ada cara lain. Supaya Nyonya Kinara melihatnya langsung.”
            Toko kue Nyonya Kinara dijaga banyak pegawai. Sekali-dua kali Nyonya Kinara datang berkunjung. Nyonya Kinara sangat sibuk. Toko kuenya tersebar di beberapa kota. Tidak mudah membuatnya berkunjung ke toko.
            “Aku punya ide,” pekik Daine. Ia bergegas mengambil kertas papyrus dan tinta. Meggy menatapnya penasaran.
***
            Meggy mengerjapkan mata tidak percaya. Nyonya Kinara datang berkat surat Daine. Daine menarik ujung Meggy. “Ayo ikut mengantri.”
            Meggy menurut. Meski masih bingung. Mereka berada di antrian paling belakang  
“1 kue labu 5 perak,” kata Nyonya Ghea.
Nyonya Kinara tercekat. “Aku tidak tahu bahwa kue di tokoku harganya naik,” ujarnya dengan suara tegas.
Nyonya Ghea memerhatikan wajah sang pembeli. Wajahnya tercekat begitu menyadari,  “Ah.. itu..”
***
            Nyonya Ghea terbata-bata bercerita. Ia terpaksa melakukannya. Ia butuh banyak koin untuk merawat suaminya yang sakit.
            Daine jadi tidak enak. Kedatangan Nyonya Kinara adalah idenya. Tapi bagaimanapun kecurangan tidak bisa dibiarkan.
            “Kau harusnya menceritakannya padaku. Aku bisa membantu pengobatan suamimu,” tawar Nyonya Kinara.
            Nyonya Ghea menitikkan air mata. “Anda terlalu baik pada saya, Nyonya. Maafkan saya, maafkan saya.”
            “Tidak perlu khawatir. Suamiku pemilik toko obat. Tapi perbuatanmu tetap harus mendapat hukuman. Upahmu akan kupotong setengah,” kata Nyonya Kinara bijak.
            Nyonya Ghea sama sekali tidak keberatan.
            Daine dan Meggy senang. Semua berakhir dengan baik. Nyonya Ghea tetap bekerja, dan toko kue Nyonya Kinara tidak dirugikan.
            Tapi ada hal lain yang membuat Daine dan Meggy senang. Mereka mendapatkan kue labu gratis selama 30 hari berturut-turut.
            Meggy berbisik. “Kamu bilang apa pada Nyonya Kinara?”
            “Aku bilang, toko Anda memiliki pelayanan terbagus di seluruh kota. Anda harus melihatnya sendiri.”
            Meggy geleng-geleng kepala. Kalau terkait kue labu, Daine tidak pernah kehabisan ide.