Senin, 17 Oktober 2016

SBT OWOP II ROMANCE ANGST- CHAPTER 12: KALIBRASI


Ini pertama kalinya aku ikut SBT (Story Blog Tour). Kami keroyokan menulis cerita tanpa konsep. Hanya berdasarkan tema. Jadi kami bertugas meneruskan cerita sebelumnya dengan khayalan masing-masing. Deg-deg ser proses bikinnya, hahaha. 

Kali ini temanya romance-angst. Astaga baca awalnya aja udah bikin shock dengan acara silet-siletan si tokoh utama, haha. Tapi seru juga setelah lama-lama diikuti ceritanya. Dan beginilah ceritaku yang mendapat bagian dekat ending. Bagian ini bagian galau, bertugas agak merapikan cerita tapi harus menyisakan misteri yang harus diselesaikan penulis berikutnya. XD 

Berikut daftar link bagi yang ingin membacanya dari chapter awal.

Chapter 1 -> Luka Elisa
Chapter 2 -> Self Harm
Chapter 3 -> Friendzone
Chapter 4 -> Dua Sisi Koin
Chapter 5 -> Teman Baru
Chapter 6 -> Permulaan
Chapter 7 -> Di Luar Dugaan
Chapter 8 -> Luka
Chapter 9 -> Terhempas dari Cinta
Chapter 10 -> Perasaan Tezar
Chapter 11 -> Jelas 



Cekidot.

Aku mencoba menulis dari sudut pandang Elisa. Setiap orang memiliki titik kalibrasi dalam hidupnya. Saat kemampuannya bertahan seseorang mencapai titik nol. Maka semesta akan menuntunnya tertatih-tatih menuju angka yang bernilai. 

Kalibrasi
Hongdae, Seoul, South Korea.

Saat kau berusaha merusak dirimu sendiri, kau akan berpikir, kau hanya merusak dirimu dan masa depanmu. “Kau pasti bisa mengatasinya,” begitulah hiburan yang selalu kau katakan. Tapi saat kau tahu bahwa kau telah berhasil merusak hidup orang lain. Maka kau akan merasa seperti sampah. Kau telah membuat kekacauan dunia. Duniamu sendiri dan dunia orang lain. Dan tidak ada kalimat hiburan selain, kau harus berubah menjadi lebih baik lagi.
Elisa

Elisa merapatkan jaket kulitnya. Udara Hongdae sore hari di musim peralihan seperti ini selalu membuatnya sedikit kedinginan. Kakinya yang jenjang diayunkan lebar-lebar. Sesekali terdengar suara remukan daun maple di bawah sepatu haknya. Kedai langganan yang hampir rutin ia datangi saat hore hari telah tampak di depan mata.

“Elisa, annyeong!” Seorang perempuan dewasa muda menyapanya ramah begitu memasuki kedai.

Elisa memeluk perempuan itu, “Jiwon Eonni, di tempat biasa.” Lalu ia mendekati tempat duduk paling ujung dekat jendela. Tempat favoritnya selama lima tahun terakhir ini. Tidak heran jika pemilik kedai sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.

“Silahkan, adik manis,” Jiwon Eonni mengerlingkan mata, “Tempat itu sudah menjadi milikmu sejak lama.”

Elisa terkekeh.

“Hari ini Americano seperti biasa?”

“Aniya, Goguma Latte juseyo."

Ada yang ingin Elisa rayakan hari ini. Tepatnya, yang ingin Elisa kenang. Sesuatu yang manis. Manis berselimut pahit. Persis seperti minuman goguma latte yang ia pesan.

“Masih diet?” Goda Jiwon sambil meletakkan pesanannya. Ia selalu menggoda Elisa yang hampir selalu memesan minuman tanpa makanan.

"Eonni, jeongmal." Elisa tergelak, “Aku bisa menyelinap ke dapur kalau aku lapar. Berhentilah menggodaku.”
            
Jiwon terkekeh. Ia segera meninggalkan Elisa sendirian. Pelanggan kedainya semakin sore semakin ramai berdatangan.
            
Tinggallah Elisa, dan kenangan yang berusaha ia peluk tanpa rasa sakit. Angin di musim gugur menyentuh rambutnya pelan. Mendadak perasaannya berkecamuk. Benar kata orang, musim gugur adalah musim tergalau. Seluruh kenangan buruk maupun manis akan mencuat tanpa permisi di musim peralihan seperti ini.
           
Kenangannya akan negeri yang sudah lama dirindukannya mengelindan tanpa diminta. Mama, Papa, Alya, Tezar. Ah Tezar..

Jakarta, Indonesia, 6 tahun yang lalu.
            
Elisa menatap langit-langit kamarnya dengan bibir melengkung. Air matanya mengalir dari sudut matanya tanpa bisa dicegah. Berbeda dengan air mata sebelumnya. Kali ini ia menangis karena bahagia. Hubungannya dengan orangtuanya membaik tanpa ia duga. Dan Tezar tanpa disangka, kini telah menjadi kekasihnya.
           
Malam terakhirnya di rumah sakit, mama menceritakannya semuanya.
            
“Sayang, apa kau ingat alm Om Hendra?” Tanya mama tiba-tiba.
            
Elisa mengangguk. Siapa yang bisa melupakan kakak papa yang super baik itu.
            
Mama menghela napas. Elisa menyelidiki wajahnya dengan cermat. “Ada apa Ma?”
            
Lalu mengalirlah cerita mama. Tentang Om Hendra yang merupakan cinta pertama Mama. Tentang Mama yang tidak menyangka jika Om Hendra adalah kakak papa. Tentang papa yang curiga kalau Elisa sebenarnya anak Om Hendra. Kesalahpahaman itulah yang menjadi penyebab ributnya mama dan papa.
            
Elisa menutup mulut. “Jadi, apaa.. aku?”
            
Mama lekas menggeleng, “Tidak sayang. Kau anak kandung Papa. Mama dan Om Hendra lekas membunuh perasaan kami semenjak Mama menikah dengan Papamu.”
            
Elisa menarik napas. Mama menyentuh tangannya.
            
“Tapi semua itu sudah berakhir sayang,” ucap Mama, “Segala bekas sayatan di tanganmu telah menyadarkan Papa.”
            
Elisa mengerjap tidak mengerti.
            
Mama memanggil seseorang untuk masuk. Itu papa. Dengan langkahnya yang tersaruk, sikapnya yang kikuk, ia menemui Elisa. Mereka bertatapan sebentar, sebelum Papa menarik Eliza ke dalam pelukannya.
            
“Maafkan Papa sayang,” ucapnya tersedu-sedu, “Sekali lagi, maafkan Papa.”
            
Elisa tidak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk kencang dalam pelukan hangat papa.
***
            
Jika suasana di pagi hari ini mimpi, Elisa tidak ingin terbangun. Kelakar mama dan papa, sarapan di meja makan, dan pesan Tezar barusan.
            
El, setengah jam lagi gue jemput lo. 
            
Elisa mematut diri di depan cermin dengan cengiran tanpa henti. Ia tidak sabar bertemu Tezar. Ia tidak sabar menceritakan semuanya. Ia tidak sabar ingin memulai hidup baru tanpa tambahan sayatan satupun di tubuhnya. Seumur hidup, belum pernah Elisa sebahagia ini. Ia menjadi optimis dengan hidupnya.               
Tapi pesan susulan Tezar mengubah segalanya.
            
El, sori, gue harus ke rumah sakit.
            
Elisa memicingkan mata. Siapa yang sakit? Ia buru-buru memencet nomor Tezar.
            
“Alya El,” sahut Tezar dengan suara bergetar.
            
“Kenapa Alya?”
            
“Dia menyilet tubuhnya sama seperti yang pernah lo lakukan.”
            
Elisa beku di tempatnya berdiri. Astaga apa yang terjadi sebenarnya? Ia segera menyambar tas dan menelpon taksi.
            
“Ma, Pa, aku pergi dulu,” teriaknya dengan buru-buru.
***
            
Tubuh Elisa bergetar hebat. Jemarinya menekan gagang pintu yang berusaha ditariknya keluar. Badannya lunglai tidak berdaya. Tenaganya terhisap oleh perasaan bersalah luar bisa.
            
“Gue sayang lo, Zar. Sejak dulu. Gue sayang sama lo sejak kecil. Sejak lo masih menjadi milik gue seutuhnya. Sejak lo belum kenal Puteri Elisa yang manja itu. Sejak lo belum dipelet cewek sialan itu. Gue sayang lo,” Alya berteriak setengah histeris.
            
“Hentikan Elisa,” desis Tezar, “Elsa nggak pernah melet gue.”
            
Air mata Alya mengalir deras. Sedetik kemudian ia tertawa hampa, “Bahkan dengan keadaan seperti ini lo masih belain dia?” Alya mengangkat tangannya yang penuh dengan perban.
            
“Gue melakukan semua ini karena lo Tezar!” Teriaknya histeris, “Gue bahkan ingin ngebunuh cewek sialan itu.” Tubuhnya meronta hebat.

Mamanya lekas memegangi Alya yang tidak terkendali. Tezar hanya mematung di tempatnya. Semuanya terjadi begitu cepat. Alya yang ditemukan berlumuran darah, menyilet lengannya, bahkan hendak memutuskan nadinya sendiri, membuat kepalanya diserang pening yang luar biasa.

“Padahal tinggal sedikit lagi,” bisik Alya di pelukan mamanya, “Sedikit lagi gue bisa membuat Elisa membunuh dirinya sendiri. Andai cewek sialan itu nggak melakukan tindakan bodoh kemarin.”

Tezar membelalak. Astaga apa jangan-jangan situs Young Blood itu? Ini semua ada kaitannya dengan Alya?
            
Elisa menutup mulutnya. Ia berusaha keras tidak menimbulkan suara. Dengan sempoyongan ia berlari ke arah taman rumah sakit. Dadanya mendadak sesak. Apa yang sudah ia lakukan? Apa yang sudah Alya lakukan? Apa yang sudah Tezar lakukan?
***
            
Elisa mengurung diri di dalam kamar. Ia menatap bekas sayatan yang berderet di sepanjang lengannya. Tidak, ia tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Ia sama sekali tidak menyangka. Tindakannya akan mempengaruhi hidup orang lain. Hidup Tezar. Hidup Alya.
            
Jika mengingat Alya, dada Elisa terasa sesak. Cewek secantik dan sepintar Alya rusak karena sifatnya yang selama ini kekanak-kanakan. Apa yang kemarin Alya ucapkan? Puteri Elisa yang manja? Alya benar. Selama ini ia seorang puteri terpuruk yang luar biasa manja. Mengandalkan Tezar sepenuhnya. Merepotkan anak itu. Membuat Alya berubah menjadi liar.
            
Elisa menangkupkan wajahnya ke tumpukan bantal. Air matanya tidak berhenti mengalir sejak tadi. Entah berapa banyak Tezar mencoba menghubungi ponselnya. Rasanya ia tidak ingin berurusan dengan siapapun malam ini. Ia mendadak diserang perasaan lelah yang luar biasa.
***
Bandara Internasional Soekarno Hatta.
            
“Apa kau yakin, sayang?” tanya Mama yang kesekian kali.
            
Elisa mengangguk, “Ini demi masa depanku, Ma.”
            
Mama dan Papa tidak bisa berbuat apa-apa. Elisa memutuskan pindah ke korea. Tinggal bersama Tante Anne, adik mama.
            
“Bagaimana dengan Tezar?”
            
Elisa terdiam. Ia menyerahkan amplop berwarna hijau tosca, “Tolong berikan ini untuk Tezar,” katanya, “Dan berjanjilah untuk tidak pernah menghubungi Tezar.”
            
“Sayang,” kata Mama.
            
“Ini demi kebaikan kami, percayalah.”
            
Mama dan Papa memeluknya sebelum panggilan penerbangan internasional menggema lantang.
***
Hongdae, Seoul, South Korea.
            
Saat suasana kedai terlihat sepi, Jiwon mendekati Elisa dengan sepanci kepiting biru. Aroma kepiting yang menggelitik hidungnya telah membuyarkan lamunannya tentang Jakarta.
            
“Musim gugur seperti ini enaknya menikmati kepiting,” cerocos Jiwon, “Oh ayolah, hentikan memikirkan nasib kedai ini,” kelakarnya.
            
Eliza terkekeh. Jiwon benar, musim gugur tanpa kepiting rasanya hampa. Ia lekas meremukkan bagian cangkang, dan disabetnya capit kepiting yang menggoda.
            
“Astaga, kupikir kau sedang diet.”
            
“Aku tidak akan pernah menolak kepiting, Eonni. Tidak sudi.”
            
Jiwon tersenyum lebar melihat Elisa yang tampak seperti tidak makan sebulan.  

 “Minggu depan aku pulang, Eonni,” ucap Elisa dengan mulut penuh.
            
“Ne?” Eonni menatap Elisa tidak mengerti, “Bukannya malam ini kau juga pulang ke apartemen?”
            
Elisa menggeleng, “Maksudku Jakarta, Eonni. Minggu depan aku pulang kampung.”
            
Jiwon terdiam.
            
“Gwancana Oenni. Aku tidak apa-apa,” Elisa tersenyum, “Sudah waktunya aku pulang, kuliahku juga telah selesai. Lagipula, orang tuaku di sana teramat merindukanku.”
            
“Apa kau tidak akan kembali ke sini?”
            
Elisa mengangkat bahu. “Tapi kurasa aku akan kembali,” tambahnya di detik berikutnya, “Hutangku terlalu banyak di kedai ini,” Elisa nyengir.
             
“Benar, kau harus membayar uang sewa membooking tempat duduk paling pojok setiap sore.” Jiwon terpingkal-pingkal, tapi kemudian ia terdiam, “Astaga, apa itu artinya?”
            
Elisa mengangguk, “Aku akan bertemu Tezar, Alya, semuanya.”
            
Jiwon menutup mulut, “Apa menurutmu mereka sudah menikah?”
            
Elisa berhenti mengunyah. Pandangannya berubah layu.
            
“Oh, sayang,” ucap Jiwon buru-buru, “Bukan itu maksudku.”
            
“Tidak eonni, aku tidak apa-apa,” Elisa menampakkan senyumnya, “Aku tidak tahu lagi soal mereka. Tapi meskipun mereka sudah menikah. Aku pastikan akan turut bahagia.”
            
Elisa terdiam beberapa saat. Ia benar-benar tidak memikirkan kemungkinan itu. Apa Tezar dan Alya sudah menikah? Apa benar, dirinya bisa ikut berbahagia? Oh Tuhan..

Bersambung..