Rabu, 01 Maret 2017

Chapter 7: Terkuak- SBT OWOP II Tema Friendship.

SBT adalah kepanjangan dari Story Blog Tour, yang merupakan salah satu program komunitas menulis One Week One Paper. Dengan adanya SBT ini, anggota belajar untuk menyelesaikan satu cerita bersama-sama. Tema SBT kali ini adalah Friendship.

Kebetulan giliranku ditulis dengan kecepatan cahaya, hahaha. Idenya dari beberapa drama korea yang suka banget menyajikan plot twist demi plot twist. Bikin gemes dan nganga. wakakak.


Kalian bisa membaca cerita sebelumnya di sini:

Chapter 1. Nana: Misteri Dana Operasional
Chapter 2. Depi: Pertemuan
Chapter 3. Naimas: Perbincangan di Kafe
Chapter 4. Kiki: Misi Wanda
Chapter 5. Najma: Ide Fiki
Chapter 6. Arini: Kedatangan Pria Misterius

***



“Pokoknya lo harus pastiin alat itu tetap terpasang ke manapun lo pergi,” ancam Wanda. Ia sengaja mencegat Anton di samping kantin. Ia memastikan bahwa Anton bisa dipercaya menjadi dari bagian kelompok detektif mereka.

Anton menghela napas, “Astaga, lo mau mematai-matai gue atau Dimas, sih?”

“Ya Dimas,” sahut Wanda sewot, “Tapi kan gak ada yang tahu lo ketemu sama Dinas kapan dan di mana. Jadi amannya, lo harus pakai alat penyadap itu 24 jam.”

Anton mengerang dalam hati, ia tidak tahu apa keputusannya termasuk tepat atau tidak untuk bergabung. Pastinya, ia ingin membantu Wanda, titik. Alasan terbesarnya adalah Wanda. Ia tidak rela jika Wanda harus berada di sarang penyamun. Benar-benar tidak rela.

“Ingat ya, jangan sampai ketahuan,” cerocos Wanda. Ia menyerahkan sebuah penyadap berbentuk pena sembari terus mengoceh.

Cerewet sekali anak ini, batin Anton. Lantas tangannya terangkat, ingin menjitak kepala Wanda sampai matanya menangkap sesuatu.

“Eh, eh,” Wanda kaget begitu Anton menarik tangannya sekuat tenaga. Ditariknya Wanda menuju belokan kantin.

“Sst..” Anton mengangkat telunjuknya ke bibir, “Jangan berisik.”

Lurus di depan mereka terlihat Hadyan yang sedang terburu-buru mengikuti Dimas. Mereka berdua memasuki ruang osis. Cukup lama mereka bercakap-cakap di dalamnya. Setelah sekitar dua puluh menit berlalu mereka keluar satu persatu. Seakan tidak ingin ada yang lain tahu.

Wanda dan Anton saling pandang.

“Ha ha ha, gak mungkin Hadyan berkhianat,” Wanda tertawa hambar, “Gue kenal baik anak itu. Pasti ia sedang membujuk Dimas untuk mengaku.”
Anton menatap Wanda lekat-lekat.

“Gue bisa buktiin kalau Hadyan ad,”

“Gue sama sekali gak nuduh Hadyan,” sela Anton, “Hanya untuk sementara, kita harus waspada.”

Wanda menggigit bibir. Dadanya bergemuruh. Apa-apaan Hadyan ini!

***
Suasa kafe tongkrongan favorit Wanda ini masih sepi melompong. Uap udara pagi masih menempel di kaca-kaca yang terpasang di sekeliling kafe. Jelas saja, jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Kalau bukan karena pemilik kafe adalah tantenya sendiri, tentu Wanda dan teman-temannya harus menunggu di luar sampai kafe siap dibuka.

Tatapan Wanda tidak lepas dari Hadyan. Yang bersangkutan sejak sibuk memainkan pensil. Fiki lahap mengunyah sepotong roti berisi selai keju dan potongan sosis. Darma di sampingnya sibuk mencatat. Di depan Darma, Bayu memandangi langit-langit kafe. Di samping Damar, Anton memandangi Hadyan lekat-lekat, sampai akhirnya ia membuka suara.

“Jadi apa yang harus gue lakuin?”

“Gue rasa Wanda sudah menjelaskannya panjang lebar,” sahut Bayu sambil melirik Wanda.

“Eh?” Wanda tersentak, “Apa kata lo tadi?”

Anton menghela napas. Bayu melempari Wanda tisu.

“Iya, iya,” protes Wanda, “Gue udah sempat ngasih pembukaan. Masa dari kalian gak ada?”

Damar melayangkan sehelai kertas, “Ini jadwal Dimas tiga hari ke depan.”

Semua mata memandangi kertas dengan takjub.

“Jangan salah,” kata Darma, “Gue baru tahu kalau Neta teman sebangku gue naksir Dimas. Gila, itu anak sampai tahu jadwal lengkap Dimas, termasuk undangan internal osis.”

Wanda terkekeh. Darma akan terlihat serius sekali jika berbicara tentang detail. Dasar anak detektif!

Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya rapat pagi itu selesai. Kesimpulannya sedikit berbeda dengan paksaan Wanda. Anton hanya perlu memakai alat penyadap setiap keluar rumah. Dan dia harus mengusahakan bisa ikut seluruh kegiatan osis. Sebisa mungkin, dia harus selalu berdekatan dengan Dimas.

Tidak lama kemudian, rapat dibubarkan. Wanda tidak mau menyiakan kesempatan. Ia terburu-buru mengikuti Hadyan yang berjalan ke arah pintu, menuntut penjelasan. Anton juga terburu-buru mengikuti mereka berdua.

Jadilah Hadyan, Wanda, dan Anton berjalan beriringan.

“Lo mau ke lapangan juga?” Hadyan menatap Wanda.

“Eh, lo mau ke lapangan?” Wanda bertanya balik.

Dahi Hadyan mengernyit.

“Gue yang mau ke lapangan,” sahut Anton, “Wanda mau nemenin gue, iya kan?”

Wanda menatap Anton sengit, kenapa lo harus ikut juga? begitu arti tatapannya. Anton mengangkat bahu. Kemudian tidak lama, Wanda merasa ada yang aneh dengan bahunya, “Astaga tas gue ketinggalan. Tunggu di sini,” serunya heboh. Meninggalkan dua cowok yang saling berdecak heran.

Wanda berlari kencang menuju kafe. Langkahnya melambat begitu sampai pagar dan benar-benar terhenti begitu terdengar suara yang tidak asing dari samping kafe.

“Lo licik! Ha ha ha,” kata sebuah suara.

“Bukan. Anak-anak itu yang terlalu lugu. Mereka pikir ekskul mereka cukup penting untuk dapat banyak dana ha,” sahut suara yang begitu dikenal Wanda.

Langkahnya semakin maju. Ingin memastikan.

“Dimas?” Wanda tercekat. Lebih tercekat lagi ketika ia tahu siapa yang berdiri di depan Dimas. “Damar?”

Oh, god. Dimas, Darma. Dimas, Darma. Setelah terdiam cukup lama, Wanda baru menyadari sesuatu. Jangan-jangan..

Bersambung..

Lanjutannya bisa dibaca di,


Chapter 8. Blognya Dini.
Chapter 9. Blognya Achev.
Chapter 10. Blognya Puteri.
          
           
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar