Sabtu, 08 September 2018

Trip Baduy Dalam Bagian 2

hmm..

apa boleh buat. baru sempat nulis lanjutannya sekarang.hehehe


sebelum hari H


jadi..


sebelum berangkat ke baduy dalam, kami mendapatkan list apa saja yang harus dipersiapkan. 


so, here we go..


senter (di baduy dalam ga ada lampu!). 

Kak, beli senter yang pakai batere aja, biar gampang diisi ulang! kata temanku. baiklah aku nurut. hehe
tapi sebenarnya gak apa kok senter yang elektrik langsung colok. di sana, senter dipake hanya ketika akan ke sungai. eh tapi tergantung dapat host yang mana sih. kemarin aku kebetulan dapat host yang rumahnya hanya selemperan sandal dari sungai.

obat-obatan pribadi, yang sesampainya di sana alhamdulillah ga aku pakai sama sekali.

karena ini mungkin ya, aku dikira masih belia. staminanya masih kuat. hahahah

oleh-oleh untuk tuan rumah.

masyarakat baduy suka sekali ikan asin. sehari-hari mereka hanya menikmati hasil ladang. bosan kali ya lama-lama. hehe

tapi saat itu aku sedang riweuh. mana sempat ke pasar cari ikan asin. senang betul saat diperbolehkan bawa minyak goreng dan kopi.


alternatif lainnya boleh bawa gula, kerupuk, dan kecap.


beras 3 cangkir. 
ini ukurannya agak problematis ya. hahahah 
"kak, menurut kakak, yang dimaksud gelas 3 cangkir itu, cangkir apa?"
"gelas belimbing sih biasanya."
"tapi ini katanya cangkir kak, bukan gelas."
".."
akhirnya aku bawa aja beras seliter. hahahah 

makanan apa saja yang bisa dinikmati bareng-bareng.

hmm karena aku anak kostan yang kostannya ga ada dapur, jadi aku borong aja makanan kering di warteg. wkwk

sekotak kering kentang, sekotak tempe oret, beberapa telur asin, dan sambal botol. sampai di sana, makanan yang aku bawa habis. terharu ya. heu


saat menyiapkan semuanya aku ga berpikir panjang. lalu kaget begitu dimasukkan ke dalam tas, tasku jadi berat. hahahahaha. paling beratlah di antara tas ibu-ibu lainnya. 


lerak atau baking soda.

ini udah disiapkan sama Mbak Roro, jadi kami nebeng aja. fyi, lerak dipakai sebagai pengganti sabun. sedangkan baking soda untuk pengganti sabun cuci muka dan odol. ya, kami dilarang menuangkan segala macam buatan pabrik di sungai. hehe

**

Hari Pertama.


sebelum mendekati batas hp harus dimatikan.


batas antara Cijahe dengan Baduy. tapi bukan ini jembatan yang goyang-goyang itu.wkwk


tanahnya berkelok-kelok. mayan juga.


lihat! cekungan itu itu kalo musim hujan dialirin air. --'


karna kemarau, tanahnya kering kerontang dan retak-retak. hahaha


setelah semuanya siap. perjalanan panjang berhasil dilalui. kami sampai juga di cijahe. masih dengan sisa-sisa perut ga karuan, kami segera menenggak minuman bersoda. wkwk


beberapa masyarakat baduy dalam sudah stand bye menunggu kedatangan pengunjung.


"Mbak Roro, kami pakai porter ya," kata para ibu-ibu.


"aku juga mbak," kataku ga mau kalah. tasku berat jenderal.


jasa porter ini bisa sekaligus dijadikan modus mendekati masyarakat baduy dalam.wkwkwk sambil bawain barang kita, sambil tanya-tanya. jadi penghasilan juga buat mereka.


sama-sama senanglah.


sebelum berangkat, kami sholat dulu di masjid mungil di cijahe.


bagi yang muslim ga perlu khawatir. sholat di baduy bukan kegiatan yang sulit. host kami pun biasa saja melihat kami sholat. 


setelah semua selesai, perjalananpun dimulai.


meski sebentar. hanya satu jam. hanya.


tapi medan yang kami lalui bukan tanah datar. ada yang nanjaaak banget, sampai takut terpeleset. ada yang turunaaaan banget, sampai rasanya pengen merosot aja sekalian. hahahah


di sepanjang perjalanan ada semacam cekungan panjang, seperti bekas aliran air. 


"kalau hujan ada airnya itu kak," kata mereka.


"hmm, ga licin?"


"sedikit."


oh. kalau aku, mungkin udah berkali-kali jatuh. 


sehingga aku bersyukur ikut trip saat musim kemarau.


tapi  di musim hujan, hasil ladang mereka sedang melimpah-limpahnya. ada duren sampai rambutan. menggoda juga ya. wkwkwk


selama di perjalanan, aku pribadi ga banyak motret sekitar. aku pikir teman-teman yang lain pasti banyak yang motret. 


lagipula ada batas lokasi. begitu sampai di batas lokasi itu, kami harus menon-aktifkan hp. 


jadi saat itu, aku benar-benar ingin menikmatinya.


udara yang segar.


pemandangan di sekitar yang seperti lukisan bergradasi.


suasana yang tenang tanpa hingar bingar.


pantas saja. pantas mereka ga mau semua itu lenyap menjadi sisa-sisa cerita. pantas mereka ingin mempertahankan sejauh yang mereka bisa.


lebih-lebih ketika akan masuk menuju perkampungan, melewati jembatan bambu yang goyang-goyang. rasanya..


kayak masuk dimensi lain.


dimensi kedap suara.


apa ya.


perkampungan mereka terdiri dari beberapa rumah panggung. bahan bangunannya nyaris sama, dari bambu. modelnya juga nyaris ga bisa dibedakan.


hanya itu.


ya. benar-benar hanya itu.


di dalamnya tak kalah sederhana. terdiri dari dua ruangan. satu ruangan tergabung dengan dapur. ruangan yang lain lebih luas (kami tinggal di sini). udah.


ah ya, ditambah teras.


kami disambut oleh host yang luar biasa baik. begitu kami datang, langsung dimasakkin air panas pakai kayu bakar. bikin mata perih. hehehe tapi menyenangkan. sambil kedip-kedipin mata, sambil ngobrol, sambil meluruskan badan.


"masyarakat baduy itu, apa ya, sederhana banget pemikirannya. mereka ga punya buku panduan, undang-undang yang tertulis, dan sebagainya.. tapi nurut banget sama ketua adat mereka. apa yang dibolehkan, dilakukan. apa yang dilarang, dihindari. se-sederhana itu," jelas Mbak Roro panjang lebar.


"sepi ya mbak lingkungannya."


"mereka ga punya waktu untuk bergosip. udah sibuk seharian di ladang. pulangnya sore. paling ngobrol sebentar. lalu istirahat. siklusnya kayak gitu tiap hari."


hmm, bisa gitu ya. meredam kebosanan, yang selalu dielukan orang-orang kota. hehehe


"kayaknya enak kalau ada kelapa muda ya," celetuk salah seorang ibu-ibu.


lalu ga lama kemudian, para porter kami datang bawa kelapa muda. T.T baik-baik dan ramah banget mereka.


beberapa porter pergi setelah mendapat bayaran. kami membayarnya beragam. dari 10 ribu sampai 25 ribu. nanti mereka sendiri yang akan membaginya sesuai dengan berat barang yang mereka bawa.


hmm mereka ga pakai ribut. 


orang baduy ini cocok sekali jadi duta perdamaian. mereka benar-benar menghindari konfilk. kalau bisa mundur dan berdamai, kenapa harus maju dan jontos-jontosan?


bagus sih.


tapi ga selamanya.


karna prinsip perdamaian yang mereka pegang, mereka jadi masyarakat yang ga enakan. pihak luar pelan-pelan memanfaatkan kesempatan. 


pelan-pelan masyarakat di luar baduy mulai menyusup, bawa dagangan jajan mereka. 


biasa sih di kita.


tapi bukan di kehidupan mereka.


makanan mereka jadi terkontaminasi. beberapa dari mereka mulai gampang sakit. 


lingkungan mereka juga otomatis terkontaminasi. seperti ditemukannya sampah di pinggir sungai.


sedih ya.


hal inilah yang mulai Mbak Yoga (penggagas trip) pikirkan. bagaimana caranya membentengi mereka dari pengaruh buruk dari luar. bagaimana mereka harus menyikapi kebiasaan buruk yang masuk.


bahkan untuk bawa oleh-oleh saja Mbak Yoga sudah mewanti-wanti. jangan bawa mie instan ya. nanti mereka ketagihan. ga baik untuk kesehatan mereka. 


**

cewek-cewek baduy, lain lagi. 

yang aku perhatikan, kesempatan para cewek-cewek ngobrol itu hanya ketika menjelang malam seusai mereka bekerja di ladang.


duduk-duduk bergerombol sebentar, sambil menunggu giliran mandi dan bersih-bersih di sungai, lalu ketika hari semakin gelap, mereka masuk lagi ke rumah masing-masing.


ah ya sungai.


selalu ada cerita menarik saat orang kota mulai nyemplung sungai.


bingung apa yang harus dilakukan pertama kali.wkwkwk


ini serius mandi di sini? ini serius buang air kecil dan besar di sini? eh gimana caranya? kalau ada yang ngintip gimanaaa?


hebohlah. hahahahaha


"sungai laki-laki dipisah. tenang ajaaa," kata Mbak Roro.


huft syukurlah. tapi tetap aja bingung. hahahahaha


saking bingungnya, aku sampai terjerembab. wkwkwkwk mayan, dapat oleh-oleh sedikit goresan dan lebam. 


lebih bingung lagi begitu melihat cewek-cewek baduy itu bisa lari-larian melewati batu sungai yang licin. aku sendiri sampai merangkak. --'


"mereka mandi basuh-basuh air doang," kata Mbak Roro, "tapi cantik-cantik."


hmm iya. 


mereka ga pakai skincare. mereka ga fitness. mereka hanya bekerja di ladang dan mandi di sungai tanpa sabun. tapi kinclong dan cantik banget. 


begitulah. alam adalah rumah perawatan yang terbaik, jika kita bisa menjaganya.wkwk


ini seperti saat aku mudik, seharian ga cuci muka masih kinclong rasanya muka. masih bebas jerawat. sampai jakarta jangan coba-coba ga cuci muka. muka dah bentol-bentol karna jerawat. hahahahaha


**


lalu.. lalu.. 


saat matahari mulai beranjak mau pergi, suara kodok mulai terdengar. 


aku asli takjub.


bengong.


suara kodok di baduy dalam kenapa terdengar kayak konser T.T


hmm kalau kalian pernah mendengar suara kodok di pinggir kali, pinggir danau, pinggir sungai, atau di manalah.


percayalah, suara kodok di sana nadanya beda.


saling bersahut-sahutan. ramai. berirama. 


aku benar-benar menikmatinya. sepanjang malam. ditemani bulan purnama.


entah. apa ini karena aku penulis cerita anak atau bagaimana. tapi aku serius terharu. hahahahaha


**


saat makan malam, kami bercengkrama dengan bapak host, yang sayangnya aku lupa nama beliau. wkwkwk maafkan.


namanya susah. nama orang sunda. ya mereka pakai bahasa sunda. hahaha


si bapak pernah beberapa kali ke jakarta. kalau ga salah bahkan pernah sampai ke pelabuhan merak. jadi bahasa indonesia lumayan lancar.


bapak punya anak 3. dua puteri satu putera. satu puteranya memutuskan keluar dari baduy dalam. 


kalau di luar baduy, udah jadi drama satu sesi kayaknya. 


tapi bapak santai saja mengiyakan. tanpa larangan. ketua adat yang disebut Puun juga ga melarang. serius lempang, tanpa konflik yang berarti. 


hanya, dia ga bisa seenaknya keluar masuk ke baduy dalam. kalau memutuskan keluar ya silahkan tinggal di baduy luar.


"tapi nanti kalau dia mau nikah, saya tetap akan membiayai. dia masih tetap jadi tanggung jawab saya."


kalau di drama, adegan kayak gitu ga seru banget. hehe


tapi pikiran bapak sesederhana itu.


kami bertanya..


"bapak gak pengen keluar?"


"nggak."


"jalan-jalan gitu, ga pengen?"


"nggak. nggak pengen."


"kenapa?"


"ya, nggak pengen aja."


percakapan selesai. hahahahaha


saat itu ada yang bawa sayuran daun selada. bapak suka. orang-orang baduy suka makan selada rupanya.


"bapak bisa tanam kok kalau mau."


"kami ga bisa tanam selada. kami hanya bisa tanam sayuran merambat seperti kacang panjang."


"kenapa?"


"sudah aturannya."


percakapan kembali selesai. hahahaha


mereka benar-benar bukan golongan yang suka mencari alasan. hahahaha.


sampai Mbak Roro berkali-kali memperingatkan dirinya sendiri, "gausah tanya alasannya apa lain kali. karena memang sesimple itu, ga pakai alasan." 


wkwkwk


misal kenapa rumah mereka sederhana banget. kenapa harus pakai ikat kepala. kenapa harus makan nasinya pakai daun. kenapa dan kenapa. 


"kami boleh keluar tapi harus ga pakai alas kaki. baduy dalam boleh ke jakarta, tapi harus jalan kaki."


ohhh. kami hanya ber-oh ria. 


ga perlu tanya alasannya. percuma. hehe


terakhir, sebelum tidur, Mbak Roro udah mengingatkan, "Nanti malam, dingin banget loh udaranya."


hmm 


masak sih?


air sungainya ga terlalu dingin. jadi aku pribadi menyangsikan ucapan Mbak Roro itu. wkwkwk


**

Postingan ini jauh lebih panjang ternyata. hahahaha 

gagal sudah menjadikannya hanya dua postingan. sampai jumpa di part ke tiga, kalau kalian ga bosen baca.


wk

























Sabtu, 01 September 2018

Trip Baduy Dalam Bagian 1

mau nulis dari mana ini? wkwk

hmm.. mungkin dari kespontananku ya. spontan daftar trip walau belum tahu mau ngajak siapa. spontan bayar meskipun teman yang tadinya ikut eh ga jadi.

deg-degan pasti. ini pertama kalinya nge-trip dengan orang yang ga aku kenal. aku hanya perlu mempersiapkan list barang yang wajib dibawa. berusaha datang tepat waktu di stasiun tanah abang. lalu udah. sisanya nge-blank. heheh

hmm.. sebenarnya udah sedikit-sedikit kenalan lewat grup wa. tapi waktu itu, aku sedang dikejar deadline tulisan lomba. pikiranku sedang penuh-penuhnya. kaki di kepala, kepala di kaki, wkwkwk jadi begitulah.

sampai di stasiun tanah abang lebih seru lagi. aku salah orang. eh bukan, orang yang salah kira. aku dikiranya masuk kelompok mereka. rupanya, di st tanah abang, setiap sabtu minggu penuh banget dengan beragam komunitas trip baduy. 

okay, kupikir kelompokku aja yang ke baduy.

ternyata tidak.

HAHA

setelah kenalan dan ngobrol, eh baru sadar kalau trip baduy kami berlainan. aku ke baduy dalam, dia ke baduy luar. pantes bawaannya hanya ransel. sementara, bawaanku gembolan kayak emak-emak mau piknik. wkwkwkwk

setelah drama salah kira itu, akhirnya ketemu juga dengan kelompokku yang sebenarnya.

mereka berlima, teman sepermainan selama kurang lebih 20 tahun dan sama-sama udah pensiun. setiap ada trip yang menyenangkan dan murah, mereka berusaha ikut.

“Ana, Indonesia itu kaya. Rugi kalau ga dikunjungi satu-persatu.”

“Ana, kamu kan masih muda. Kami ini menaruh harapanlah sama yang muda-muda.”

“Ana, semoga perjalanan nanti seru ya.”

kemudian, seorang ibu-ibu yang mau pensiun tahun depan, bawa anak yang baru lulus kuliah dan energinya ga habis-habis. terakhir, satu pemandu yang informatif, namanya Mbak Roro, bawa anak cewek tomboy yang masih berusia 6 tahun.

seru ya, wkwkwk

perjalanan panjangpun dimulai. dari stasiun tanah abang menuju stasiun rangkas bitung. di stasiun rangkas, muncul guide dari baduy luar yang menjemput.

namanya Pulung, usia 20 tahun, dan udah nikah. wk

Pulung ini pendiam, suka senyum, tanpa alas kaki, pakai baju normal, dan punya hp.

iya, masyarakat baduy luar tidak sesaklek masyarakat baduy dalam. Mereka bisa bepergian naik angkot meski tetap tanpa alas kaki. yang menakjubkan bukan soal Pulung punya hp, tapi soal Pulung yang ga pernah sekolah tapi bisa baca tulis.

“setiap manusia punya insting bisa membaca kok,” kata Mbak Roro yang berprofesi sebagai guru TK.

“dulu, cuma baca-baca dari bungkus makanan,” ungkap Pulung.

keren ya Pulung. heheh

oh iya, aku ikut trip yang diadakan Mbak Yoga. nama FBnya mbak Chik Yen Yoga. biayanya 235 ribu.

setahuku, seperti penjelasan dari Mbak Yoga di grup. baduy dalam meliputi tiga kawasan. cibeo, cikeusik, cikeurtawarna. hanya cibeo dan cikeusik yang bisa dikunjungi oleh masyarakat luar. jalan menuju cibeo cukup memakan waktu.sSekitar 4-6 jam dari titik keberangkatan di ciboleger.

kebayang segimana capeknya. hahaha

trip kami memilih mengunjungi cikeusik, dari titik keberangkatan di cijahe. konon, ga banyak yang tahu soal cijahe ini. jadi, pengunjung lebih sedikit dibandingkan yang ke arah cibeo.

sebenarnya, perjalanan menuju cikeusik sama jauhnya. namun bisa dipotong dengan naik angkot. hmm lumayan. perjalanan naik angkot dari stasiun rangkas menuju cijahe sekitar 2-3 jam.

semakin lumayan, begitu tahu medan yang dilalui seperti apa. wkwkwkwkwk

meliuk-liuk.

kejedag-jedug.

perut udah ga karuan.

untung ga muntah. HA

sopir angkotnya super ngebut. hahah ampuun, sampai ban mobilnya meledak.

jadi aku sarankan..

bawa permen yang asem-asem, untuk menetralisir kondisi mual perut. bawa kantong kresek, siapa tahu udah ga tahan. bawa tolak angin. bawa minuman bersoda. apa saja yang bisa memulihkan perut mual. heheh

“tapi nanti terbayar kok setelah sampai di lokasi,” kata Mbak Roro, berusaha menyemangati tim, “pemandangannya itu ga ada duanya.”

aku masih semangat, yang lain juga. tapi yang namanya mual tetap ga bisa dihindari, hahah.

***

tahu-tahu udah panjang postingannya. wkwkwk lanjut lagi nanti part II ya.

baru sadar. dokumentasiku minim, hahaha. gapapa ya..

yang duduk ngedoprok, dua peserta termuda. hehehe
yang duduk ngedeprok, dua peserta termuda. heheheh



tiba di cijahe. muka dah agak seger. habis nenggak minuman bersoda. wkwkwk